Translate

Pengertian Kekerasan

  1. Kekerasan adalah suatu tindakan yang bersandar pada penggunaan ketegasan ekstra (Mukhtarluthfi,2008).
  2. Kekerasan adalah perilaku yang bertentangan dengan kelembutan dan sesuatu yang natural (Mukhtarluthfi,2008).

Bentuk kekerasan
Penganiayaan Fisik  Yaitu cedera fisik sebagai akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.

Kelalaian. Kelalaian ini selain tidak sengaja, juga akibat dari ketidak tahuan atau kesulitan ekonomi. Bentuk kelalaian ini antara lain yaitu :
  1. Pemeliharaan yang kurang memadai, yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh (failure to thrive), anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
  2. Pengawasan yang kurang, dapat menyebabkan anak mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa.
  3. Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan meliputi : kegagalan merawat anak dengan baik misalnya imunisasi, atau kelalaian dalam mencari pengobatan sehingga memperburuk penyakit anak.
  4. Kelalaian dalam pendidikan meliputi kegagalan dalam mendidik anak untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkannya atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman kata-kata yang merendahkan anak, atau tidak mengakui sebagai anak. Keadaan ini sering kali berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasikan anak dari lingkungan atau hubungan sosialnya atau menyalahkan anak secara terus menerus.

Penganiayaan seksual
Mengajak anak untuk melakukan aktivitas seksual yang melanggar norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat, dimana anak tidak memahami/tidak bersedia.

Aktivitas seksual dapat berupa semua bentuk oral genital, genital, anal, atau sodomi. Penganiayaan seksual ini juga termasuk incest yaitu penganiayaan seksual oleh orang yang masih ada hubungan keluarga.


Sindrom Munchausen
Sindrom ini merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat-buat dan pemberian keterangan palsu untuk menyokong tuntutan. Hal ini biasanya di lakukan orang tua karena ingin menutupi kejadian yang sebenarnya (Soetjiningsih, 1998:164).

Klasifikasi kekerasan menurut usia
  1. Anak 0-5 tahun reaksi yang timbul adalah cemas terhadap perpisahan, perilaku agresif, kehilangan kemampuan yang baru dicapai, dan mimpi buruk dengan mengigau.
  2. Anak 6-12 tahun reaksi yang timbul adalah kesulitan belajar, yang diakibatkan oleh adanya kesulitan dalam berkonsentrasi dan kegelisahan, gangguan stress pasca trauma, adanya interaksi sosial yang buruk, dengan perilaku agresif yang menonjol, reaksi depresi, kesulitan dalam tidur, dan bertingkah laku seperti anak yang lebih kecil.
  3. Anak 13-18 tahun reaksi yang timbul adalah merusak diri sebagai cara mengatasi rasa marah dan depresi, melakukan berbagai perilaku beresiko tinggi seperti menggunakan zat-zat terlarang, melakukan tindakan anti sosial, menarik diri dari lingkungannya sampai pada isolasi diri, perubahan kepribadian, dan keluhankeluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan secara pemeriksaan fisik atau laboratorium ( Neni Utami , 2004).


Pemicu Kekerasan  
Ada beberapa hal yang secara bersama saling menguatkan pemicu terjadinya beberapa perilaku yang mereduksi kualitas keluarga
  1. Eksistensi keluarga yang semakin virtual (maya), antara ada dan tiada, apalagi semakin orang tua yang sibuk berkarir di luar rumah.
  2. Kemiskinan membuat orang tua tega memperkerjakan anaknya apalagi, masih sangat kokohnya pola patriarki membuat anak tidak bisa berbuat banyak ketika dipaksa membantu mencari uang
  3. Terbatasnya akses pendidikan, Sedikitnya ada 6,6 juta anak (data tahun 2000) yang tidak bisa sekolah serta 7,2 juta siswa SD /SLTP terancam putus sekolah. Adanya waktu luang anak akibat tidak sekolah serta memburuknya ekonomi keluarga memperbesar peluang orang tua untuk mendesak anaknya bekerja.
  4. Pemanfaatan perkembangan teknologi yang tidak diawasi Teknologi bersifat netral. Ia bisa menguntungkan, namun bisa merugikan, bahkan cenderung mengarah ke sisi yang merugikan bisa lepas dari pengawasan. Televisi misalnya banyak acara yang mendidik, sarat pengetahuan, tapi banyak juga acara “sampah”. Tiada pengawasan membuat anak tertarik menonton acara sampah. Pada gilirannya, itu bisa memicu perilaku menyimpang, bahkan agresif. Moore dan Parton berpendapat (Moore, 13-16 Parton 1985:152174) Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan kepada anak disebabkan oleh faktor individu namun ada juga argumen karena faktor struktur sosial.
  5. Faktor individu. Menekankan bahwa  orang dewasa yang “berbakat” menganiaya anak mempunyai latar belakang masa kecil yang juga penuh kekerasan, ada juga orang dewasa menganggap anak seharusnya memberikan dukungan dan perhatian kepada orang tua dengan senantiasa memenuhi harapan orang tua sehingga jika tidak anak harus dihukum. Selain itu, orang dewasa yang tidak tahu pertumbuhan perkembangan anak sehingga jika anak tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan orang dewasa karena anak belum mampu maka orang dewasa menjadi marah.
  6. Faktor struktur sosial. Memandang perlakuan salah terhadap anak terjadi karena sesorang tidak mempunyai jaringan sosial yang memuaskan dan tidak mendukung dirinya dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya hubungan suami istri yang tidak harmonis, masalah di tempat kerja dan lain-lain. ( Desi Natalliany , 2008).

Dampak Kekerasan  
Dampak fisik anak
  1. Lecet hematom, luka bekas jahitan, luka bakar, patah tulang, pendarahan retina akibat dari adanya subdural hemtom, dan adanya kerusakan organ dalam lainnya.
  2. Sekuele/cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan     syaraf,     gangguan     pendengaran, kerusakan mata, dan cacat lainnya.

Dampak tumbuh kembang anak
  1. Pertumbuhan fisik anak kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapatkan perlakuan sama.
  2. Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan yaitu kecerdasan, emosi, konsep diri, agresif, hubungan sosial yang buruk.

Dampak dari penganiayaan seksual
Tanda – tanda penganiayaan seksual antara lain adalah :
  1. Tanda akibat trauma atau infeksi lokal, misalnya nyeri perineal, sekret vagina, nyeri dan pendarahan anus.
  2. Tanda gangguan emosi misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia atau perubahan tingkah laku.
  3. Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya.



Sindrome Munchausen
Gambaran sidrom ini terjadi dari gejala :
a.    Gejala yang tidak biasa atau tidak spesifik.
b.    Gejala terlihat hanya kalau ada orang tuanya.
c.    Cara pengobatan oleh orang tuanya yang luar biasa
d.    Tingkah laku orang tuanya yang berlebihan
e.    Adanya penyakit yang sama tetapi tidak biasa pada sepupu atau orang tuanya.
Akibat lain dari perlakuan salah tersebut, anak akan melakukan hal yang sama di kelak kemudian hari terhadap anak-anaknya  (Soetjiningsih, 1998 : 168).

Download PP Nomor 22 Tahun 2013

Download PP Nomor 22 Tahun 2013 Tentang Perubahan Kelima Belas Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil.

Daftar tabel gaji baru tahun 2013 berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2013 dapat di Unduh atau di download di SINI

Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Oleh : Retna Kusumaningrum





a.    Pengertian pembelajaran kooperatif
Menurut Holubec (Nurhadi, 2003: 59) Pengajaran kooperatif (Cooperative Learning) memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mencerdaskan sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Menurut Abdurrahman (Nurhadi, 2003: 60) Secara ringkas, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah (saling mencerdaskan), silih asih (saling menyayangi), dan silih asuh (saling tenggang rasa) antar sesama siswa sebagai latihan hidup dai dalam masyarakat nyata.
Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen (Suyitno, 2004: 9). Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara.

b.    Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Abdurrahman (Nurhadi, 2003: 60) Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya.
1)    Saling ketergantungan positif
Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui: Saling ketergantungan pencapaian tujuan, saling ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, peran, saling ketergantungan hadiah.
 2)    Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa.
3)    Akuntabilitas individual
Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual disebut dengan akuntabilitas individual.
4)    Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, berani mempertahankan pikiran logis, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja di ajarkan.

c.    Manfaat pembelajaran kooperatif
 Manfaat diterapkannya strategi pembelajaran kooperatif menurut Lundgren (Ibrahim, 2000: 18-19) adalah sebagai berikut.
1)    Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas.
2)    Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.
3)    Memperbaiki sikap terhadap ilmu pengetahuan alam dan sekolah.
4)    Memperbaiki kehadiran.
5)    Angka putus sekolah menjadi rendah.
6)    Penerimaan terhadap perubahan individu menjadi lebih besar.
7)    Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil.
8)    Konflik antar pribadi berkurang.
9)    Pemahaman yang lebih mendalam.
10)    Motivasi lebih besar.
11)    Hasil belajar lebih tinggi.
12)    Retensi lebih lama.
13)    Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.
Sedangkan menurut Johnson dan Johnson (Nurhadi dkk, 2003: 62) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut. 
  1. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
  2. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
  3. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan. 
  4. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
  5. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia. 
  6. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
  7. Meningkatkan motivasi belajar instrinsik. 
  8. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.

d.    Ragam pembelajaran kooperatif
Ragam model pembelajaran kooperatif antara lain:
1)    STAD (Student Teams Achievement Divisions).
2)    TGT (Teams Games Tournament).
3)    TAI (Teams Assisted Individualization).
4)    Jigsaw I.
5)    Jigsaw II.
6)    CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition).
(Suyitno, 2004: 37).

Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI

 Model pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan oleh guru, selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama (kalau mungkin), tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya.
Slavin (Widdiharto, 2006: 19) membuat model ini dengan beberapa alasan. Pertama, model ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program pengajaran individual. Kedua, model ini memberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif. Ketiga, TAI disusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnya dalam hal kesulitan belajar siswa secara individual.
 Model pembelajaran tipe TAI ini memiliki 8 komponen, kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut.
  • Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa.
  • Placement Test yaitu pemberian pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
  • Student Creative yaitu melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan dimana keberhasilan individu ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya.
  • Team Study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkan.
  • Team Score and Team Recognition yaitu pemberian score terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
  • Teaching Group yaitu pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
  • Fact test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
  • Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru kembali diakhiri waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah (Suyitno, 2004: 8).
Adapun tahap-tahap dalam model pembelajaran TAI adalah sebagai berikut.
  • Guru menyiapkan materi bahan ajar yang akan diselesaikan oleh kelompok siswa. 
  • Guru memberikan pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu. (Mengadopsi komponen Placement Test).
  • Guru memberikan materi secara singkat. (Mengadopsi komponen Teaching Group).
  • Guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis berdasarkan nilai ulangan harian siswa, setiap kelompok 4-5 siswa. (Mengadopsi komponen Teams).
  • Setiap kelompok mengerjakan tugas dari guru berupa LKS yang telah dirancang sendiri sebelumnya, dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya. (Mengadopsi komponen Team Study).
  • Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya dengan mempresentasikan hasil kerjanya dan siap untuk diberi ulangan oleh guru. (Mengadopsi komponen Student Creative). 
  • Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara individu. (Mengadopsi komponen Fact Test).
  • Guru menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang berhasil (jika ada) berdasarkan hasil koreksi. (Mengadopsi komponen Team Score and Team Recognition).
  • Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan. 

Pengertian Belajar

Oleh : Retna Kusumaningrum 





Gagne (Anni, 2004: 2), menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode tertentu, dan perubahan  perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan. Sedangkan pengertian belajar menurut Fontana (Suherman, 2001: 8) adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil pengalaman.

Menurut Gagne (Anni, 2005: 3) belajar merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling kait-mengkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Beberapa unsur yang di maksud adalah sebagai berikut.
a.    Pembelajar, dapat berupa siswa, pembelajar, warga belajar, dan peserta pelatihan
Pembelajar memiliki organ penginderaan yang digunakan untuk menangkap rangsangan; otak yang digunakan untuk mentransformasikan hasil penginderaannya ke dalam memori yang kompleks; dan syaraf atau otot yang digunakan untuk menampilkan kinerja yang menunjukkkan hal-hal yang telah dipelajari.
 b. Rangsangan (stimulus)
Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajar disebut situasi stimulus. Suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dan orang adalah stimulus yang selalu berada di lingkungan seseorang.
c.    Memori
Memori     pembelajar     berisi     berbagai     kemampuan     yang     berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas belajar sebelumnya.
d.    Respon
Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon. Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Respon dalam pembelajaran diamati pada akhir proses belajar yang disebut perubahan perilaku.
Menurut Thomas (Anni, 2005: 54) beberapa prinsip belajar yang efektif sebagai berikut.
a.    Spesifikasi (specification)
Strategi belajar itu hendaknya sesuai dengan tujuan belajar dan karakteristik siswa yang menggunakannya. 
b.    Pembuatan (generativity) 
Strategi belajar yang efektif yaitu yang memungkinkan seseorang mengerjakan kembali materi yang telah dipelajari, dan membuat sesuatu menjadi baru.

c.    Pemantauan yang efektif (effective monitoring)
Pemantauan yang efektif yaitu berarti bahwa siswa mengetahui kapan dan bagaimana cara menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana cara menyatakannya bahwa strategi yang digunakan itu bermanfaat.
d.    Kemujaraban personal (personal efficacy)
Siswa harus memiliki kejelasan bahwa belajar akan berhasil apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga siswa itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan lingkungan (Sugandi, 2004: 9), sedangkan menurut Fontana (Suherman, 2001: 8) pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.

Hasil Belajar

Hasil belajar Menurut Sudjana (Fitriana, 1990: 22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa. Oleh karena itu apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka kemampuan yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep.


Proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahanperubahan dalam bidang pengetahuan, dalam bidang keterampilan, dalam bidang nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam hasil belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan atau persoalan tugas yang diberikan oleh guru. Hasil ini berbeda sifatnya, tergantung di dalamnya siswa memberikan prestasi misalnya dalam bidang pemahaman atau pengetahuan yang merupakan unsur kognitif. Seperti kita ketahui bersama bahwa pendidikan mengandung 3 unsur yaitu unsur afektif, kognitif, dan psikomotorik. Namun tidak semua perubahan merupakan hasil belajar. Perubahan itu akan merupakan hasil belajar bila memiliki ciri-ciri berikut.
a.    Perubahan terjadi secara sadar, artinya seseorang yang belajar akan menyadari adanya suatu perubahan.
b.    Perubahan bersifat berkesinambungan dan fungsional.
c.    Perubahan bersifat positif dan aktif.
d.    Perubahan yang terjadi bukan bersifat sementara.
e.    Perubahan dalam belajar mempunyai tujuan dan arah tertentu.

Pada prinsipnya belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya, baik dalam bentuk sikap dan nilai yang positif maupun pengetahuan yang baru.
Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika pada aspek pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, dan pemecahan masalah.

Pengertian Pengelolaan dan Surat

Pengelolaan adalah proses yang membantu merumuskan kebijakan dan tujuan organisasi atau proses yang memberikan pengawasan pada suatu hal yang  terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan, ( Ibnu Syamsi, 1994 : 8 ).

Pengertian surat menurut Ig Wursanto ( 2003 : 1 ) dalam bukunya yang berjudul “ Kearsipan I “ surat adalah suatu alat penyampaian informasi atau keterangan-keterangan ( keputusan, pernyataan, pemberitahuan, permintaan dan sebagainya ) secara tertulis dari satu pihak kepada pihak yang lain. Boleh juga dikatakan bahwa surat adalah helai kertas yang ditulis atas nama pribadi penulis, atau atas nama kedudukannya dalam organisasi, yang ditujukan kepada suatu alamat tertentu, dan memuat suatu bahan komunikasi.

Surat menurut Basir Barthos ( 2005 : 36 ) dalam bukunya yang berjudul “ Manajemen Kearsipan “ adalah alat komunikasi tertulis yang berasal dari satu pihak dan ditujukan kepada pihak lain untuk menyampaikan warta.
Menurut Sikka Mutiara Silmi ( 2004 : 1 ) Surat adalah sehelai kertas atau lebih yang digunakan untuk mengadakan komunikasi secara tertulis.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa surat merupakan media komunikasi yang berbentuk tertulis, biasanya menggunakan beberapa lembaran kertas yang berisi pesan atau informasi yang akan disampaikan kepada seseorang atau lembaga.
 
Fungsi Surat
Selain sebagai sarana komunikasi surat juga mempunyai fungsi lain, menurut Basir Barthos ( 2005 : 36 ) surat berfungsi sebagai :
1.    Wakil dari pengiriman / penulis.
2.    Bahan pembukti.
3.    Pedoman dalam mengambil tindakan lebih lanjut.
4.    Alat pengukur kegiatan organisasi.
5.    Sarana memperpendek jarak ( fungsi abstrak ).
Menurut Sikka Mutiara Silmi ( 2004 : 2 ) surat berfungsi sebagai :
1.    Sarana komunikasi, sesuai dengan fungsinya, surat merupakan sarana komunikasi yang ekonomis, efektif, dan praktis.
2.    Wakil, surat menjadi wakil dari pembuat surat yang membawa pesan, misi atau informasi yang hendak disampaikan kepada penerima.
3.    Bahan bukti, mengingat surat merupakan sarana komunikasi secara tertulis, maka surat dapat dijadikan bahan bukti yang mempunyai kekuatan hukum.
4.    Sumber data, surat dapat menjadi sumber data yang dapat digunakan untuk informasi atau petunjuk keterangan untuk ditindak lanjuti.
5.    Bahan pengingat, surat mengingatkan seseorang dalam kegiatan atau aktivitasnya di masa lalu yang bisa dipergunakannya untuk melakukan kegiatan selanjutnya baginya.
6.    Jaminan, surat dapat menjadikan surat jaminan, seperti jaminan keamanan pada surat jalan, jaminan tanggungan pada surat gadai dan lain sebagainya.
7.    Alat pengikat, surat dapat digunakan untuk mengikat antara dua pihak dengan kekuatan hukum, semisal dalam surat kontrak.
8.    Alat promosi, tak terelakkan lagi bahwa surat, terutama pada bagian kepala surat yang memuat logo, dapat menjadi alat promosi bagi biro, kantor atau perusahaan pengirim surat kepada penerima surat atau siapapun juga yang membaca surat tersebut.
9.    Alat untuk penghemat, surat dapat menghemat, baik waktu, tenaga dan juga biaya, karena selembar surat telah dapat mewakili kedatangan pembuat surat secara nyata.

Macam – Macam Surat Kedinasan

Macam – macam surat Kedinasan menurut Sikka Mutiara Silmi ( 2004 : 249 ) antara lain :
1.    Surat Dinas
Surat dinas merupakan surat – surat resmi yang didalamnya menyangkut berbagai hal tentang kedinasan.
2.    Surat Pengangkatan
Surat pengangkatan adalah surat yang berisi tentang pemberitahuan kepada pegawai untuk diangkat menduduki jabatan yang lebih tinggi.
3.    Surat Keputusan
Surat keputusan berisi keputusan atas dasar pertimbangan yang dipergunakan untuk pengambilan keputusan. Surat keputusan terdiri dari 3 komponen, yaitu :
a.    Konsideran
Konsideran merupakan bagian pertama dari Surat Keputusan yang dimulai dari kepala surat hingga kata memutuskan. Bagian ini memuat informasi mengenai alasan pembuatan Surat Keputusan, pertimbangan-pertimbangan serta peraturan-peraturan yang menjadi landasan hukum dari surat keputusan tersebut.
b.    Diktum
 Diktum merupakan bagian kedua dari surat keputusan yang dimulai setelah kata memutuskan hingga bagian kalimat yang menunjukkan kepada siapa surat keputusan tersebut ditujukan. Diktum memuat point-point keputusan yang dibuat di dalam surat tersebut. 
c.    Tembusan
 Bagian ini menunjukkan perihal pihak atau badan yang dikenai surat keputusan tersebut atau pihak-pihak yang wajib melaksanakan keputusan yang telah tercantum atau juga menyebutkan kepada siapa saja salinan atau kutipan surat keputusan tersebut ditujukan.

4.    Surat Perintah
Surat perintah adalah surat yang dikeluarkan oleh instansi atau pihak yang lebih tinggi kepada instansi atau pihak yang berada di bawahnya agar melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tugas – tugas, wewenang maupun tanggung jawab.
5.    Surat Perintah Kerja
Surat perintah kerja adalah surat yang memberikan hak serta perintah untuk melaksanakan suatu pekerjaan, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang dijelaskan dalam surat perintah kerja tersebut.
6.    Surat Tugas
Surat tugas digunakan untuk memberikan tugas kepada pihak – pihak yang kedudukannya di dalam perusahaan lebih rendah dibandingkan pemberi surat tersebut untuk melaksanakan suatu tugas.
7.    Surat Kuasa
Surat kuasa di buat untuk menyatakan pengalihan atau pelimpahan kekuasaan kepada seseorang untuk bertindak dan berhak bertindak atas nama pemberi hak kuasa tersebut.

Pengertian Pendidikan Islam

Oleh SUJARI (Mahasiswa STAIN Jember, 2007/2008)

 


 
Pendidikan Islam, yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilainilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin, 1999: 9).

Menurut Hasan Langgulung yang dikutip oleh Djamaluddin (1999), Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu :
•    Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri.
•    Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
•    Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.
•    Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya di akhirat.

An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali, mengatakan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan (1999: 10 ).

Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar, mengatakan pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa, dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkannya program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam (2002: 12).

Pendidikan Islam adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk mengejewantahkan nilai-nilai Islam, baik yang tercermin dalam nama lembaganya maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan (Soebahar, 2002: 13).

Kendati dalam peta pemikiran Islam, upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan, namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang, mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar, baik secara ontologis, epistimologis maupun aksiologis.

Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama, ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan, asuhan, bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal, agar nantinya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidupnya demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua, merupakan usaha yang sistimatis, pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau setiap individu dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran islam secara utuh, demi terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran islam. Dan ketiga, merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.

Menurut Fadlil Al-Jamali yang dikutip oleh Muzayyin Arifin, pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajarnya (2003: 18).

Maka dengan demikian, pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan, bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia, baik dari aspek rohaniah, jasmaniah, dan juga harus berlangsung secara hirarkis. oleh karena itu, pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan, perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif.

Pendidikan islam sebagaimana rumusannya diatas, menurut Abd Halim Subahar ( 1992 : 64) memiliki beberapa prinsip yang membedakannya dengan pendidikan lainnya, antara lain :
•    Prinsip tauhid
•    Prinsip Integrasi
•    Prinsip Keseimbangan
•    Prinsip persamaan
•    Prinsip pendidikan seumur hidup, dan
•    Prinsip keutamaan.
Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
•    Untuk membentuk akhlakul karimah.
•    Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi, afeksi dan psikomotori guna memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidupnya sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir, pola laku dan sikap mental.
•    Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian integratif, mandiri dan menyadari sepenuhnya peranan dan tanggung jawab dirinya di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.
Dengan demikian, sesungguhnya pendidikan islam tidak saja fokus pada education for the brain, tetapi juga pada education for the heart. Dalam pandangan islam, karena salah satu misi utama pendidikan islam adalah dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin, maka ia harus seimbang, sebab bila ia hanya focus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional, maka manusia tidak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri, bahkan yang terjadi adalah demartabatisasi yang menyebabkan manusia kehilangan identitasnya dan mengalami kegersangan psikologis, dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik.

Demikian pula pendidikan islam mesti bersifat integralitik, artinya ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh, kesatuan jasmani rohani, kesatuan intelektual, emosional dan spiritual, kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya.
Dasar-Dasar Pendidikan Islam
Dalam setiap aktivitas manusia sebagai instrumen transformasi ilmu pengetahuan, budaya, dan sebagai agen perubahan sosial, pendidikan memerlukan satu landasan fundamental atau basik yang kuat. Adapaun dasar yang di maksud adalah dasar pendidikan Islam suatu totalitas pendidikan yang wajib bersandar pada landasan dasar sebagaimana yang akan dibahas dalam bagian berikut ini.

Pendidikan Islam baik sebagai konsep maupun sebagai aktivitas yang bergaerak dalam rangka pembinaan kepribadian yang utuh, paripurna atau syumun, memerlukan suatu dasar yang kokoh. kajian tentang pendidikan Islam tidak lepas dari landasan yang terkait dengan sumber ajaran Islam yaitu :

•    Al-Qur’an
Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut aqidah dan yang berhubungan dengan amal disebut syari’ah. Oleh karena itu pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam sesuai dengan perubahan dan pembaharuan (Darajat, 2000: 19).
•    As-Sunnah
As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan rasul. Yang di maksud dengan pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yang juga sama berisi pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertaqwa. Untuk itulah rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama.
Maka dari pada itu, Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk yang berkaitan dengan pendidikan. As-Sunnah juga berfungsi sebagai penjelasan terhadap beberapa pembenaran dan mendesak untuk segara ditampilkan yaitu :
1.    Menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum
2.    Sunnah mengkhitmati Al-Qur’an.

•    Ijtihad
Ijtihad adalah istilah para fuqoha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam untuk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dengan demikian ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu, ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yang sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rasul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan, yang senantiasa berkembang. Ijtihad dalam bidang pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju bukan saja dibidang materi atau isi, melainkan juga dibidang sistem.

Secara substansial ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam.

•    Al-Kaun
Maksud Allah menurunkan ayat kauniyah tersebut yaitu untuk mempermudah pemahaman manusia terhadap lingkungan sekitar sehingga dapat mengakui kebesarannya seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar- Ra’du ayat 3 yang berbunyi :
 نياثنين يا زوجييل فيهيمرت جعل اﻟثي كنيرا وﻣ وانهييروس اييهل فيض وجعد الريوهواﻟدي ﻣ
نم ﻳتفكروقوﻳت ﻟي دﻟك لنهارا ن فاﻟ ﻳغش اﻟيل

Artinya : “Dialah Tuhan yang mmembentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung, sungai-sungai padanya. Dia menjadikan padanya buah-buahan berpasang-pasangan. Allah jualah yang menutup malam kepada siang sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir” (Depag RI, 1992: 368).

Berdasarkan firman Allah di atas, bahwa setiap orang berfikir harus mengakui kebesaran Allah dan hal ini relevan untuk dijadikan dasar dalam pendidikan Islam.

3. Unsur-Unsur Pendidikan Islam
Dalam implementasinya, fungsinya, pendidikan Islam sangat memperhatikan aspek yang mendukung atau unsur yang turut mendukung terhadap tercapainya tujuan dari pendidikan Islam. Adapun aspek atau unsur-unsur tersebut adalah :
1. Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Fadlil Aljamali yang dikutip oleh Abdul Halim Soebahar sebagai berikut: Pertama, mengenalkan manusia akan perannya diantara sesama (makhluk) dan tanggung jawab pribadinya. Kedua, mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawab dalam tata hidup bermasyarakat. Ketiga, mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan untuk mengambil manfaat dari alam tersebut. Keempat, mengenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya (2002: 19-20).
Tujuan pendidikan Islam adalah tercapainya pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya. Sedangkan menurut Zakiyah Dzarajat tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itulah tujuan pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan (2000: 31).
Hal yang sama pula tujuan pendidikan Islam dapat dipahami dalam firman Allah :



نانتﻢ ﻣﺴلموال وتن تموته ولقاق تاتقوا اﻟله حوا ن اﻣنﻳاﻳهااﻟدﻳ

Arinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenarbenarnya taqwa; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. 3 Ali-Imron: 102).

Sedangkan menurut Ahmad D Marimba yang dikutip oleh Halim Soebahar, menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya muslim. Dan menurutnya bahwa tujuan demikian identik dengan tujuan hidup setiap muslim. Adapun tujuan hidup seorang muslim adalah menghamba kepada Allah yang berkaitan dengan firman Allah Surat Dzariat 56 yang berbunyi :

ال ﻟيعﺒدوننس جن واللقت اﻟوﻣا خ

Artinya: “Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk meyembahKu”.

Dan masih banyak beberapa deskripsi yang membahas tentang tujuan pendidikan Islam seperti konfrensi pendidikan di Islamabat tahun 1980, bahwa pendidikan harus merealisasikan cita-cita (idealitas) Islam yang mencakup pengembangan kepribadian muslim secara meyeluruh yang harmonis yang berdasarkan fisiologis dan psikologis maupun yang mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkeseimbangan sehingga terbentuklah muslim yang paripurna, berjiwa tawakkal secara total kepada Allah sebagaimana firman Allah Surat Al-An’am Ayat 162:

ني ﻟله رب اﻟعلميي وﻣﺤياي وﻣماتي ونﺴكصلتن قل ا

Artinya: “Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya bagi Allah, tuhan semesta alam”. Imam Al-Ghazali mengatakan tujuan penddikan Islam adalah untuk mencapai kesempurnaan manusia yang mendekatkan diri kepada Allah dan bertujuan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (Langgulung, 1990: 9).


Maka dari pada itu, tujuan pendidikan Islam dirumuskan dalam nilai-nilai filosofis yang termuat dalam filsafat pendidikan Islam. Seperti halnya dasar pendidikannya, maka tujuan pendidikan Islam juga identik dengan tujuan Islam itu sendiri. Sedanagkan Muhammad Umar Altomi Al-Zaibani yang dikutip oleh Djalaluddin, mengatakan tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak ul karimah. Tujuan ini sama dan sebangun dengan tujuan yang akan dicapai oleh misi kerasulann yaitu “membimbing manusia agar berakhlak mulia”. (2001: 90).

Maka dengan demikian tujuan pendidikan Islam yang berdasarkan deskripsi di atas ialah menanamkan makrifat (kesadaran) dalam diri manusia terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah, kesadaran selaku anggota masyarakat yang harus meiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap pembinaan masyarakatnya, serta menanamkan kemampuan manusia untuk menolak, memanfaatkan alam sekitar sebagai ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia, dan kegiatan ibadahnya kepada pencipta alam itu sendiri.

Telah kita ketahui, bahwa dasar tujuan pendidikan ditiap-tiap negara itu tidak selalu tetap sepanjang masa, melainkan sering mengalami perubahan atau pergantian, sesuai dengan perkembangan zaman. Perumbakan itu biasanya akibat dari pertentangan pendirian atau ideologi yang ada di dalam masyarakat itu. Hal ini kerap kali terjadi lebih-lebih di negara yang belum stabil kehidupan politiknya, karena mereka yang bertentangan itu sadar bahwa pendidikan memegang peranan penting sebagai generasi bangsa.

Sama halnya dengan tujuan pendidikan di Indonesia juga selalu berubah-rubah, dikarenakan kondisi dan situasi politiknya tidak stabil. Hal ini dibuktikan mulai tahun 1946 sampai pada saat sekarang. Dengan demikian tujuan pendidikan itu tidak berdiri sendiri, melainkan dirumuskan atas dasar hidup bangsa dan cita-cita negara dimana pendidikan itu dilaksanakan. Sikap hidup itu dilandasi oleh norma-norma yang berlaku bagi semua warga negara.


Oleh karena itu, sebelum seseorang melaksanakan tugas kependidikannya, terlebih dahulu harus memahami falsafah negara, supaya norma yang melandasi hidup bernegara itu tercermin dari tindakannya, agar pendidikan yang diarahkan kepada pembentukan sikap posisi pada peserta didik hendaknya diperhitungkan pula bahwa manusia muda (peserta didik) itu tidak hidup tersendiri di dunia ini. (Uhbiyati, dkk,2001:135-139)
2. Subjek Pendidikan.
Subjek pendidikan adalah orang yang berkenaan langsung dengan proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik. Peserta didik yaitu pihak yang merupakan sabjek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan atau tindakan pendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah untuk membawa anak didik kepada tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan. Dalam PPRI No. 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan peserta didik ialah anggota masyarakat yang berusaha menyumbangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (PPRI, 2005: 12)

Pendidik atau guru secara implisit ia telah merelakan dirinya dan memikul dan menerima sebagai tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak pada oranag tua. (Dzarajat, 2000: 39)
Maka dengan demikian subjek pendidikan Islam yaitu semua manusia yang berproses dalam dunia pendidikan baik formal, informal maupunn nonformal yang sama-sama mempunyai tujuan demi pengembangan kepribadiannya. Sehingga menjadi insan yang mempunyai kesadaran penuh kepada sang pencipta.

3. Kurikulum dan Materi.

Hal penting yang perlu diketahui dalam proses belajar mengajar atau proses kependidikan dalam suatu lembaga adalah kurikulum (Arifin, 2003: 77). Menurut Soedijarto yang dikutip Khoiron Rosyadi mengartikan kurikulum dengan lima tingkatan, yaitu : Pertama, sebagai serangkaian tujuan yang menggambarkan berbagai kemapuan (pengetahuan dan keterampilan), nilai dan sikap yang harus dikuasi dan dimiliki oleh peserta didik dari suatu satuan pendidikan; Kedua, sebagai kerangka materi yang memberikan gambaran tentang bidang-bidang study yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk menguasai serangkaian kemampuan, nilai dan sikap yang secara institusional harus dikuasi oleh peserta didik setelah selesai dengan pendidikannya; Ketiga, diartikan sebagai garis besar materi dari suatu bidang study yang telah dipilih untuk dijadikan objek belajar. Keempat, adalah sebagai panduan dan buku pelajaran yang disusun untuk menunjang terjadinya proses belajar mengajar; Kelima, adalah sebagai bentuk dan jenis kegiatan belajar mengajar yang dialami oleh para pelajar, termasuk di dalamnya berbagai jenis bentuk dan frekuensi evaluasi yang digunakan sebagai bagian terpadu dari strategi belajar mengajar yang direncanakan untuk dialami para pelajar. (2004:243-244)


Oleh karena, itu kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan tidak hanya dijabarkan serangkai ilmu pengetahuan yang harus diajarkan pendidik kepada anak didik, dan anak didik mempelajarinya. Tetapi juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandanag perlu, karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Adapun pengertian kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa latin, (suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga), kemudian yang dialihkan kedalam pengertian pendidikan menjadi suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dan secara termenologi adalah menunjukkan tentang segala mata pelajaran yang dipelajarai dan juga semua pengalamam yang harus diperoleh serta semua kegiatan yang harus dilakukan anak.

Adapun yang dimaksud dengan materi yaitu bahan-bahan atau pengalaman belajar ilmu agama Islam yang disusun sedemikian rupa atau disampaikan kepada anak didik.(Uhbiyati, 2003:14)

Materi dan kurikulum memiliki keterkaitan atau depadensi yang sangat erat mengingat meteri merupakan integral dari kurikulum, dan pencapaian materi secara sistematis diatur dari kurikulum yang ada.

4. Metode, Media, dan Evaluasi.
Metode merupakan instrumen dan dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau alat yang mempunyai fungsi ganda, yaitu yang bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Oleh karena itu, metode dalam pengertian litter lijk, kata “metode” berasal dari bahasa grek yang terdiri dari meta yang berarti “melalui”, dan hodos yang berarti “jalan”. Jadi metode berarti “jalan yang dilalui”. Maka secara umum metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu, cara itu mungkin baik mungkin tidak baik. atau metode juag dapat diartikan sebagai cara untuk mempermudah pemberian, pemahaman kepada anak didik mengenai bahan atau materi yang diajarkan. (Arifin, 2003: 89)
Media, menurut gerlach dan Eli sebagaimana dikutip Azhar Arsyad, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap (1996: 1) Jadi media merupakan sarana untuk mempermudah pemberian pemahaman kepada peserta didik.
Evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran atau yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adalah merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku peserta didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologis dan spritual religius, karena manusia hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius melainkan juga berilmu dan berketarampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya. (Arifin, 2000: 238)
Dalam rangka menilai keberhasilan pendidikan, evaluasi penting untuk dilaksanakan karena sebagai pijakan dalam merumuskan program-program pendidikan yang akan datang.

5. Lingkungan.
Lingkungan ialah sesuatu yang berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya. Lingkungan sendiri dibagi tiga macam yang keseluruhannya mendukung terhadap proses implementasi pendidikan Islam, misalnya masyarakat, sekolah, dan keluarga. Dalam arti yang luas lingkungan mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam. Oleh karena itu, dengan kata lain lingkungan ialah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. (Daradjat, 2000: 63) Jadi lingkungan mempunyai andil yang sangat signifikan dalam pembentukan sikap dan prilaku yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kepribadian yang sempurna.

Pengertian Akuntansi

Oleh RINDA YULIANA Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda, 2008 



Akuntansi adalah alat yang sangat penting sebagai bahasa bisnis bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti para investor, kreditur, instansi pemerintah serta masyarakat yang menginginkan informasi mengenai keadaan keuangan perusahaan dan perkembangan perusahaan, juga bagi manajemen perusahaan itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa akuntansi diperlukan sebagai suatu sistem pengukuran yang menghasilkan informasi bagi pihak yang berkepentingan. Pentingnya akuntansi sebagai sistem pengukuran dikemukakan oleh Larson, et.all. (2005: 3) sebagai berikut: “Accounting is an information and measurement system that identifies, records, and communicates relevant, reliable and comparable information about an organization’s business activities”.

Komite Terminologi AICPA (The Committee on Terminology of the American Institute of Certified Public Accountants) memberikan dua definisi akuntansi  dari sudut pandang  berbeda yang dikutif Belkaoui (2000: 66)  sebagai berikut : 
1)    Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna  dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil proses tersebut
2)    Akuntansi adalah aktifitas jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi kuantitatif, terutama bersifat keuangan tentang entitas ekonomik yang diperkirakan bermanfaat dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomik dalam membuat pilihan diantara alternatif tindakan yang ada.


Sebagai suatu “seni” dan "aktifitas jasa"  maka secara  tidak langsung menyatakan bahwa akuntansi mencakup sekumpulan teknik yang dianggap bermanfaat di bidang  tertentu. Belkauoi (2000: 66) memetik  The Handbook of Accounting menyatakan bahwa bidang yang memanfaatkan akuntansi adalah: laporan keuangan; perencanaan pajak; audit independen; sistem-sistem pemprosesan data & informasi; akuntansi biaya dan manajemen; akuntansi pendapatan nasional; dan konsultan manajemen.             

Adapun laporan keuangan (financial statements) utama yang dihasilkan akuntansi terdiri dari: Neraca (Balance Sheet), Laporan Laba-Rugi (Income Statement) dan Laporan Perubahan Modal (Statement of owner’s equity) serta Laporan Arus Kas (Statement of cash flows). Pengertian masing-masing  jenis laporan keuangan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Neraca.
Pengertian neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada saat  tertentu dan akan berubah manakala ada transaksi keuangan dalam entitas yang disusun sedemikian rupa.  Lili M. Sadeli (2000 : 19) menyatakan sebagai berikut: “ Neraca adalah suatu daftar keuangan yang memuat ikhtisar tentang harta, utang, dan modal suatu unit usaha atau perusahaan pada suatu saat tertentu, biasanya pada penutupan hari terakhir dari suatu bulan atau tahun”.  Dengan demikian, pengertian    neraca dapat pula diartikan sebagai laporan yang menunjukkan keadaan keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Keadaan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki atau aktiva dan jumlah kewajiban yang disebut pasiva. Oleh karena itu dapat dilihat dalam neraca bahwa jumlah aktiva dan pasiva akan sama besar.


Laporan Laba Rugi.
Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan  pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu entitas untuk periode tertentu.   Lili M. Sadeli (2000 : 24) menyatakan bahwa : “Laporan Rugi/Laba (income statement) adalah suatu daftar yang memuat ikhtisar tentang penghasilan, biaya serta hasil neto suatu perusahaan pada suatu periode tertentu, misalnya untuk satu bulan atau satu tahun”  


Laporan Perubahan Modal adalah laporan yang mengidentifikasi perubahan  modal (ekuitas) pemilik atau pemegang saham dalam suatu periode. Sedangkan Laporan Arus Kas adalah laporan yang mengidentifikasi arus kas keluar (cash out flow) berupa pembayaran  dan arus kas masuk (cash in flow)   yang diterima dalam suatu periode.  


Dalam pada itu, akuntansi mempunyai dua cabang utama, yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan lebih menitik beratkan pada pengumpulan informasi historis untuk menghasilkan laporan keuangan, terutama untuk pihak eksternal sebagaimana dikemukakan Larson et.al (2005: 4 “Financial accounting is the area of accounting aimed at serving eksternal users by roviding them with financial statements” Sedangkan akuntansi manajemen lebih kepada pengumpulan informasi untuk pengambilan keputusan bagi pihak internal sebagaimana dijelaskan juga  oleh Larson et. Al (2005: 5): “Management accounting is the area of accounting that service the decision making needs of internal users”.


Adapun akuntansi biaya, merupakan gabungan dari akuntansi keuangan dan manajemen, sebagaimana dikatakan Mulyadi (2002: 1). Lebih jauh, Mulyadi (2002: 6) menegaskan pengertian akuntansi biaya adalah ”proses pencatatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya”


Berdasarkan beberapa batasan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi biaya merupakan bagian akuntansi yang lebih menekankan pada aktivitas jasa untuk menghasilkan informasi biaya, terutama yang berhubungan dengan biaya produksi suatu produk barang atau jasa dengan suatu barang, baik untuk tujuan perencanaan dan pengendalian, maupun penghitungan harga pokok produk itu sendiri. Tanpa informasi biaya, manajemen akan mengalami kesulitan untuk mengelola perusahaan dengan baik.  Secara lebih rinci, tugas akuntansi  biaya yang dinyatakan Supriyono (1999: 14)  sebagai berikut:
1.    Menyediakan data biaya yang diperlukan untuk peren- canaan   dan pengendalian kegiatan.
2.    Menyediakan data biaya untuk pengambilan keputusan sehari-hari atau proyek khusus yang memerlukan pemilihan alternatif yang harus diambil
3.    Berpartisipasi dalam berkreasi dan menyusun budget
4.    Menetapkan metode dan prosedur  pengendalian dan perbaikan operasi serta program pengurangan biaya
5.    Mengembangkan sistem analisa biaya dalam rangka penentuan harga pokok dan menganalisa penyimpangan dan pengendalian fisik.
6.    Menyusun laporan biaya.


Sedangkan  Mulyadi (2002: 7) menyatakan bahwa akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok, yaitu:
1)    Penentuan harga pokok produksi
2)    Pengendalian biaya
3)    Pengambilan keputusan khusus.

Berdasarkan beberapa tugas dan tujuan akuntansi tersebut dapatlah diartikan bahwa tujuan akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu bahan informasi bagi kepentingan manajemen, guna membantu mereka dalam mengelola perusahaan. dalam rangka tujuan tersebut, maka perusahaan harus mencatat dan menggolongkan sedemikian rupa, sehingga penentuan harga pokok produk atau jasa yang telah dihasilkan oleh perusahaan dapat ditentukan secara benar dan teliti. Penentuan harga pokok produk secara teliti hanya dapat dilakukan apabila diadakan pemisahan secara tegas antara biaya produksi dan non produksi.

Pengertian Biaya

Oleh RINDA YULIANA Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda, 2008



Pengertian biaya dalam akuntansi biaya mengandung makna yang sangat penting. Berikut ini akan dijelaskan beberapa pengertian biaya tersebut.

Hansen & Mowen (2003: 34) menyatakan bahwa: “Cost is the cash or cash equivalent value safrifaced  for goods and services that is expected to  bring a current or future benefit to the organization”

Henry Simamora (1999: 36) menjelaskan pengertian biaya dan istilah beban yang sering digunakan dalam  akuntansi sebagai berikut:
Biaya (cost) adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat pada saat ini atau dimasa mendatang bagi organisasi. Disebut setara  kas (cash equivalent) karena sumber sumber  non kas dapat ditukarkan dengan barang atau jasa  yang dikehendaki. Sedangkan beban (expense)  adalah biaya terpakai (expired cost).
 

Menurut Mulyadi (2002: 8): “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.”.  Dari definisi ini, ada empat unsur pokok dalam biaya, yaitu:
1)    Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi 
2)    Diukur dalam satuan uang
3)    Yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi 
4)    Pengorbanan tersebut untuk memperoleh manfaat  saat ini dan/atau mendatang

Dengan demikian, biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dengan satuan uang,  untuk memperoleh barang atau jasa  yang diharapkan memberikan  manfaat saat ini maupun akan datang. Pengorbanan sumber ekonomis tersebut bisa  merupakan biaya historis  dan  biaya masa yang akan datang. Sedangkan dalam arti sempit biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau secara tidak langsung untuk memperoleh penghasilan, disebut dengan harga pokok.


Penggolongan Biaya
Ada berbagai cara menggolongkan biaya dalam akuntansi. Penggolongan biaya yang berbeda dilakukan atas dasar tujuan yang berbeda. Penggolongan tersebut didasarkan atas prinsip dasar pengelolaan biaya: “Diffrentn costs for different porposes”. Bahkan ketika istilah biaya produk (product cost) dipergunakan, maka komponen yang terkandung dalam  biaya produk tersebut tergantung pada tujuan manajerial yang diinginkan. Perbedaan mendefinisikan biaya produk berbeda untuk tujuan yang berbeda dijelaskan  oleh Hansen & Mowen dengan tampilan  berikut.
 

 

                          Gambar  2.1.  Contoh Definisi Biaya Produk (Hansen & Mowen (2003: 41)


Sebagai contoh, manajemen berkepentingan melakukan analisis kemampulabaan   (profitabilitas) stratejik. Untuk  tujuan ini, maka manajemen memerlukan informasi   tentang semua pendapatan dan biaya yang berkaitan dengan produk.  Dalam kasus ini, berdasarkan gambar 2.1, pendefinisian biaya produk lebih yang cocok adalah berdasarkan  “value-chain product cost” (meliputi empat komponen, yaitu: riset & pengembangan, produksi, pemasaran dan pelayanan konsumen), karena  memasukkan semua biaya yang diperlukan untuk menilai kemampulabaan stratejik.

Mulyadi (2002: 14-17)  mengklasifikasikan  biaya  dalam   lima cara penggolongan biaya untuk memenuhi berbagai tujuan, yaitu:
1)    Penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran.
2)    Penggolongan biaya atas dasar fungsi pokok dalam perusahaan.
3)    Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
4)    Penggolongan biaya sesuai. perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.
5)    Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya.
 

Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran yang didasarkan nama obyek pengeluaran ini cocok digunakan dalam organisasi yang masih kecil. Biasanya penggolongan ini bermanfaat untuk perencanaan perusahaan secara menyeluruh dan pada umumnya untuk kepentingan penyajian laporan pihak luar (eksternal).

Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan berarti  biaya  digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi di mana biaya tersebut terjadi atau berhubungan. Adapun fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur adalah fungsi-fungsi: produksi, administrasi dan umum dan fungsi pemasaran. Oleh karena itu biaya-biaya dalam perusahaan manufaktur dapat digolongkan menjadi biaya produksi, biaya administrasi dan umum dan biaya pemasaran. 

Biaya produksi adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Biaya produksi dibagi menjadi 3 elemen : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja disebut juga dengan prime cost, sedangkan biaya tenaga kerja dan biaya  overhead  pabrik  disebut  juga dengan biaya konversi (Convertion Cost).

Dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan biaya bahan baku adalah biaya yang membentuk bagian menyeluruh dari pada produk jadi dan biaya bahan baku adalah harga pokok bahan baku tersebut diolah dalam proses produksi. Sedangkan biaya tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diperhitungkan langsung dalam pembuatan produk tertentu. Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang dapat diidentifikasikan secara langsung terhadap produk tertentu. Adapun biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi, selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini bisa berupa dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi tak langsung lainnya. Biaya administrasi dan umum dalam hal ini dimasudkan sebagai biayabiaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak diidentifikasikan dengan aktifitas produksi maupun pemasaran. Biaya administrasi dan umum adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan penyusunan kebijakan dan pengarahan perusahaan secara keseluruhan. Contoh dari biaya administrasi dan umum adalah gaji direksi, biaya-biaya sumbangan- sumbangan, gaji eksekutip, biaya telepon dan lain-lain.

Ada dua macam perlakuan terhadap biaya administrasi dan umum:
1)    Biaya administrasi dan umum dialokasikan kepada dua fungsi dalam pemasaran, yaitu fungsi produksi dan fungsi pemasaran. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya biaya administrasi dan umum dikeluarkan untuk dua fungsi tersebut.
2)    Memisahkan biaya administrasi dan umum sebagai kelompok biaya   ter- sendiri dan tidak mengalokasikannya ke dalam fungsi produksi dan pemasaran. Didalam prakteknya, terdapat kecenderungan untuk mengelompokkan biaya administrasi dan umum sebagai kelompok biaya sendiri, yang terpisah dari biaya produksi dan pemasaran. Pengendalian biaya administrasi dan umum dapat lebih mudah dilakukan, jika biaya tersebut dikelompokkan dan disajikan secara terpisah. 

Biaya pemasaran adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan usaha untuk memperoleh pesanan  dan memenuhi pesanan. Sehingga untuk memperoleh pesanan, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya untuk menarik minat pembeli dengan cara mengadakan promosi penjualan, advertensi dan lain-lain. Sedangkan untuk memenuhi pesanan perusahaan mengeluarkan biaya-biaya angkut, biaya asuransi dan lain-lain agar produk perusahaan sampai ketangan pemesan. Biaya pemasaran dan biaya administrasi umum disebut juga dengan istilah biaya komersial.

Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai  berkaitan dengan produk yang dihasilkan. Jika perusahaan mengolah bahan baku menjadi produk jadi, maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa produk, sedangkan jika perusahaan menghasilkan jasa maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa penyerahan jasa tersebut. 

Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tidak ada maka biaya langsung tidak akan terjadi. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.

Perbedaan biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk sangat diperlukan apabila perusahaan menghasilkan lebih dari satu jenis produk dan manajemen menghendaki penentuan harga pokok perjenis produk tersebut jika perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk saja (seperti perusahaan semen, perusahaan gula), maka semua jenis biaya produksi merupakan biaya langsung, sehingga didalam perusahaan tersebut tidak memerlukan adanya biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk.

Penggolongan biaya menurut perilakunya adalah pembagian biaya yang terdiri dari  biaya variabel, biaya semi variabel, dan biaya tetap. Pengertian biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatannya. Sedangkan biaya semi variabel adalah biaya jumlah totalnya tetap dalam kisaran  volume kegiatan tertentu, dan biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah atau tidak ditentukan oleh volume produksi pada periode tertentu.

Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya berkaitan dengan pelaporan keuangan. Misalnya perhitungan laba atau rugi suatu perusahaan dilakukan dengan cara mempertemukan penghasilan yang diperoleh dalam satu periode akuntansi tertentu dengan biaya-biaya yang terjadi didalam periode yang sama. Agar perhitungan laba atau rugi dan penentuan harga pokok produk dapat dilakukan secara teliti, maka biaya-biaya dapat digolongkan dalam hubungannya dengan pembebanan kedalam periode akuntansi tertentu. Atas dasar waktu, biaya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu: 1) Pengeluaran modal (capital expenditure) dan 2) Pengeluaran penghasilan (revenue expenditure).

Pengeluaran modal adalah biaya-biaya yang dinikmati oleh lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal tidak seluruhnya dibebankan dalam periode akuntansi dimana pengeluaran tersebut terjadi, tetapi dibagikan kepada periode-periode yang menikmati manfaat pengeluaran tersebut. Sedangkan pengeluaran penghasilan adalah biaya-biaya yang hanya bermanfaat didalam periode akuntansi dimana biaya tesebut terjadi. Contoh dari pengeluaran penghasilan adalah biaya pemeliharaan mesin, biaya telepon, biaya komisi penjualan. 

Penggolongan biaya dalam praktek tercermin dalam laporan laba rugi perusahaan. Bagaimana perusahaan menggolongkan biaya-biaya dalam sebuah laporan laba rugi, tergantung pada tujuan dari pembuatan laporan itu sendiri atau kepada siapa itu ditujukan. Jika ditujukan kepada pihak eksternal, maka ada ketentuan umum yang   mungkin diatur pula secara khusus menurut Standar Akuntansi Keuangan tertentu.  Namun jika laporan ditujukan kepada manajemen, tidak ada keharusan untuk mengikuti standar tersebut, melainkan berdasarkan pada prinsip: “Diffrentn costs for different porposes”. Secara umum, struktur laporan laba rugi  perusahaan jasa mengandung tiga komponen utama, yaitu overhead cost, biaya pemasaran dan biaya admi- nistrasi dan umum, termasuk di dalamnya perusahaan perhotelan.

Pengertian Ażān

Sebelum membahas tentang pelaksanaan dan nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam hadis tentang ażān di telinga bayi yang baru lahir, telebih dahulu akan penulis paparkan tentang pengertian ażān. Ażān yang dimaksud dalam hadis tersebut sebagaimana diterangkan oleh para pen-syarakh hadis adalah ażān yang sama seperti ażān yang dilaksanakan ketika tiba waktu salat.

Adapun pengertian ażān itu sendiri adalah : Ażān berasal dari bahasa arab al-ażana yang berarti memberitahukan atau mengumumkan, sedangkan secara istilah pemberitahuan atau seruan sebagai tanda masuknya waktu şalat dengan bacaan yang telah disebutkan. adapun lafadz adalah sebagaimana sabda Rasul SAW. dalam hadiś berikut :

َأِﺑﻲ ْﺑِﻦ اْﻟَﻤِﻠِﻚ َﻋْﺒِﺪ ْﺑِﻦ ُﻣَﺤﱠﻤِﺪ َﻋْﻦ ُﻋَﺒْﻴٍﺪ ْﺑُﻦ اْﻟَﺤﺎِرُث َﺣﱠﺪَﺛَﻨﺎ ُﻣَﺴﱠﺪٌد َﺣﱠﺪَﺛَﻨﺎ  ُﺱﱠﻨَﺔ َﻋﱢﻠْﻤِﻨﻲ اﻟﱠﻠِﻪ َرُﺱﻮَل َیﺎ : ُﻗْﻠُﺖ : َﻗﺎَل َﺟﱢﺪِﻩ َﻋْﻦ َأِﺑﻴِﻪ َﻋْﻦ َﻣْﺤُﺬوَرَة  اﻟﱠﻠُﻪ َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ َﺗُﻘﻮُل : َوَﻗﺎَل َرْأِﺱﻲ ُﻣَﻘﱠﺪَم َﻤَﺴَﺢَﻓ َﻗﺎَل اَﻷَذاِن، اﻟﱠﻠُﻪ، ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َأْن َأْﺷَﻬُﺪ : َﺗُﻘﻮُل ُﺛﻢﱠ َﺻْﻮَﺗَﻚ، ِﺑَﻬﺎ َﺗْﺮَﻓُﻊ : َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ َأْآَﺒُﺮ  ُﻣَﺤﱠﻤًﺪا َأﱠن َأْﺷَﻬُﺪ اﻟﱠﻠِﻪ، َرُﺱﻮُل ًﺪاُﻣَﺤﻤﱠ َأﱠن َأْﺷَﻬُﺪ اﻟﱠﻠُﻪ، ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َأْن َأْﺷَﻬُﺪ َأْن َأْﺷَﻬُﺪ ِﺑﺎﻟﱠﺸَﻬﺎَدِة َﺻْﻮَﺗَﻚ َﺗْﺮَﻓُﻊ ُﺛﻢﱠ َﺻْﻮَﺗَﻚ، ِﺑَﻬﺎ َﺗْﺨِﻔُﺾ : اﻟﱠﻠِﻪ َرُﺱﻮُل اﻟﱠﻠِﻪ، َرُﺱﻮُل ُﻣَﺤﱠﻤًﺪا َأﱠن َأْﺷَﻬُﺪ اﻟﱠﻠُﻪ، ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َأْن َأْﺷَﻬُﺪ اﻟﱠﻠُﻪ، ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َﺣﱠﻲ اﻟﱠﺼَﻼِة، َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ اﻟﱠﺼَﻼِة، َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ اﻟﱠﻠِﻪ، ُﻣَﺤﱠﻤًﺪاَرُﺱﻮُل َأﱠن َأْﺷَﻬُﺪ اﻟﺼﱠَﻼُة : ُﻗْﻠَﺖ اﻟﱡﺼْﺒِﺢ َﺻَﻼُة َآﺎَن َﻓِﺈْن ؛ اْﻟَﻔَﻼِح َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ اْﻟَﻔَﻼِح، َﻋَﻠﻰ  اﻟﱠﻠُﻪ ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ َﺒُﺮَأْآ اﻟﱠﻠُﻪ اﻟﱠﻨْﻮِم ِﻣَﻦ َﺥْﻴٌﺮ اﻟﺼﱠَﻼُة اﻟﱠﻨْﻮِم ِﻣَﻦ َﺥْﻴٌﺮ
  (أیﻮداود رواﻩ)
(Abū Dāwud berkata :) Musaddad bin ‘Ubaid menceritakan hadis kepadaku dari bin Mālik bin Abi Mahdūrah dari,  (Musaddad berkata :) al-Hāris menseritakan hadīs kepadaku dari bapaknya dari kakeknya berkata : Saya berkata : Wahai Rasulullah SAW. ajarkanlah kepadaku sunnahnya ażān, maka Rasalullah memegang depan kepalaku seraya bersabda : ucapkanlah Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar dengan mengeraskan suaramu, kemudian ucapkanlah Asyhadu an la ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, dengan mengurangi suaramu, kemudian keraskan kembali suaramu dengan syahadat Asyhadu an la ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, hayya ‘alas salah, hayya ‘alas salah, hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah ; apabila pada salat subuh ucapkan : as-Salatu hairum minan naum as-Salatu hairum minan naum, Allahu Akbar Allahu Akbar, la ilaha illah. 

Dari hadiś tersebut dapat dilihat bahwa lafaż ażān  adalah : 
1.    َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ dua kali
2.    اﻟﱠﻠُﻪ ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َأْن َأْﺷَﻬُﺪ dua kali
3.    اﻟﱠﻠِﻪ ُﻣَﺤﱠﻤًﺪاَرُﺱﻮُل َأﱠن َأْﺷَﻬُﺪ dua kali
4.    اﻟﱠﺼَﻼِة َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ dua kali
5.    ِح اْﻟَﻔَﻼ َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ  dua kali, bila shalat subuh ditambah  ِﻣَﻦ َﺥْﻴٌﺮ اﻟﺼﱠَﻼُة
اﻟﱠﻨْﻮِم      dua kali 
6.    َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ satu kali
7.    اﻟﱠﻠُﻪ ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ satu kali 
 
Pelaksanaan Hadīs Tentang Ażān Di Telinga Bayi yang Baru Lahir
a. Hukum Melaksanakan Hadīs Tentang Ażān Di Telinga Bayi yang Baru Lahir
Sebagaimana telah dibahas pada bab II dan sedikit disinggung oleh para pen-syarah hadis dalam bab III, bahwa hadiś tentang ażān di telinga bayi yang baru lahir secara matan semuanya menyebutkan bahwa Rasulullah memperdengarkan ażān pada cucunya yaitu Hasan bin Ali ketika dilahirkan meskipun pelaksanaannya tidaklah termasuk sunnah karena hadīs tersebut berkualitas da’if karena melalui salah satu periwayat yang dianggap lemah hafalannya yaitu ‘Aşim bin Ubaidillah. Adapun tentang pelaksanaan hadiś da’if ini para ulama’ berpendapat sebagai berikut :

Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits merangkumkan bahwa pendapat tentang pemakaian hadiś da’if itu ada tiga mażhab ulama’ yaitu : 
1.    Hadiś da’if tidak boleh diamalkan secara mutlaq. Pendapat ini dikemukakan oleh al Bukhari dan Muslim, alasannya adalah : agama Islam diambil dari Al-Qur’an dan sunnah yang benar sedangkan hadiś da’if bukanlah sunnah yang dapat diakui kebenarannya.
2.    Hadiś da’if boleh dipergunakan untuk fadhailul ‘amal. Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian Fuqaha dan ahli hadiś seperti Imam Ahmad dan Ibu Abdul Barr.
3.    Hadiś da’if dipergunakan apabila dalam suatu masalah tidak diperoleh hadiś-hadiś shahih dan hasan. Pendapat ini disandarkan kepada Abu Dawud dan Imam Ahmad.
 
Abu Daud menyatakan bahwa hadiś yang lemah (da’if) jika tidak terlalu lemah adalah lebih baik dibandingkan dengan pendapat para ulama’ itu sendiri. Dari pendapat para ulama’ tersebut terdapat dua mażhab yang berpendapat bahwa hadiś da’if boleh diamalkan dengan syarat-syarat yang telah dikemukakan. Dalam hal ini penulispun sependapat bahwa  pelaksana hadiś da’if itu boleh saja selama hadiś tersebut tidak berhubungan dengan hukum syari’at yang berupa haram, halal, makruh, wajib dan mustahab. 

Ini didukung oleh Yusuf Qardhawi yang menuliskan bahwa mayoritas ulama’ memperbolehkan periwayatan hadiś yang lemah dalam hal fadailul a’māl (perbuatan kebaikan), raqāiq (ungkapan nasihat yang mengharukan), zuhud, targīb (Imbauan untuk berbuat baik), tarhīb (menakut-nakuti agar tidak berbuat dosa) dan kisah-kisah.

Berdasarkan dari pendapat para ulama’ yang telah dikemukakan di atas maka hadiś tentang ażān  di telinga bayi yang baru lahir dalam hal penggunaannya adalah hukumnya boleh dilaksanakan karena isi hadiś tersebut termasuk kepada kategori fadailul a’mal dan tidak berhubungan dengan hukum syari’at, disamping itu tidak ada dalil yang lebih kuat yang melarangnya bahkan ada beberapa hadiś yang dalam missinya mendukung pelaksanaan hadiś tentang ażān di telinga bayi yang baru lahir ini. Dan hendaknya hadis ini disikapi sebagai langkah pendidikan kepada anak.

b. Cara Melaksanakan Hadīs Tentang Ażān Di Telinga Bayi yang Baru Lahir
Sebagimana yang tertulis dalam kitab Tuhfah al-Ahwady Bissyarkhi Jami’ at-Tirmiżi karya Abī al ‘Ulā Muhammad Abdurrahman al-Mubarkafūry yang telah penulis kemukakan dalam bab III, disana diterangkan bahwa Imam at-Tirmiżi menghimbau untuk melaksanakan hadis ini, adapun pelaksanaan ażān di telinga bayi yang baru lahir itu dilakukan secepatnya sesaat setelah bayi dilahirkan. 
Kariman Hamzah dalam bukunya Islam Berbicara Soal Anak mengemukakan bahwa ażān ditelinga bayi yang baru lahir tentunya dilaksanakan dengan alunan suara yang merdu (tidak terlalu keras) ke telinga bayi yang baru lahir. Jadi pelaksanaan ażan di telinga bayi itu dilaksanakan secepatnya sesaat setelah kelahiran mengingat ada hadis yang telah disebutkan di bab III yaitu setiap anak yang dilahirkan akan diganggu oleh syaitan, dan tentunya ażān tersebut dikumandangkan atau lebih tepatnya dibisikkan dengan suara yang pelan dan merdu.
 
Nilai-nilai Edukatif dalam Hadīs Tentang Ażān Di Telinga Bayi yang Baru Lahir
Sebagaimana lafad ażān yang telah disebutkan dalam hadiś diatas, maka berikut ini penulis akan mencoba untuk menguraikan nilai-nilai edukatif yang terdapat pada ażān tersebut.
1.    Pada bagian pertama dari ażān  adalah  kalimat  َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ   menunjukkan Kariman Hamzah, Islam Berbicara Soal Anak, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), hlm. 2. bahwa Allah SWT. adalah yang “paling besar”, lebih besar dari segala sesuatu, ini merupakan pengenalan pertama kepada Żat yang Maha segalagalanya daripada manusia.
2. Kemudian setelah dikenalkan dengan kebesaran Allah SWT. kalimat kedua berupa : اﻟﱠﻠُﻪ ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ َأْن َأْﺷَﻬُﺪ adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali hanyalah Allah SWT. lafad ini merupakan ajakan pertama kepada anak untuk bersyahadat sebagai simbol masuk Islam.
3.   Demikian juga dengan lafad ketiga yaitu اﻟﱠﻠِﻪ ُﻣَﺤﱠﻤًﺪاَرُﺱﻮُل َأﱠن َأْﺷَﻬُﺪ merupakan kalimat syahadat yang kedua sebagai persaksian bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah utusan Allah SWT.
Setelah diajak untuk masuk agama Islam dengan dua kalimat syahadat, kemudian tuntunan selanjutnya adalah ajakan melaksanakan ibadah dengan kata : اﻟﱠﺼَﻼِة َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ ,  salat merupakan ibadah yang paling utama. Dan diantara tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah/menyembah Allah, sebagaimana firman Allah :  اﻟﺬاریﺎت)ِﻟَﻴْﻌُﺒُﺪوِن      ِإﱠﻻ َواْﻟِﺈْﻥَﺲ اْﻟِﺠﱠﻦ َﺥَﻠْﻘُﺖ َوَﻣﺎ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. ( Q.S. aż żāriyāt : 56)
4.    Setelah ajakan ibadah yang merupakan hubungan vertikal dengan Allah SWT. kemudian kalimat اْﻟَﻔَﻼِح  َﻋَﻠﻰ َﺣﱠﻲ  merupakan seruan untuk meraih kemenangan/keberuntungan, ini merupakan ajakan yang sangat bersifat global, Abdurrahman Mas’ud menyebutkan bahwa kemenangan disini dalam arti sebenarnya, yakni al-Falah, true victory, kejayaan lahir batin, dunia akhirat. 

Dengan demikian kemenangan tersebut bisa diartikan sebagai meraih kemenangan dunia dan akhirat sehingga memotivasi kita untuk berusaha mencapai kesuksesan akhirat dengan melaksanakan perintah-perintah agama dan menjauhi larangannya. dan meraih keberuntungan dunia bisa diasumsikan sebagai usaha pekerjaan yang layak guna menunjang keberhasilan dalam ibadah sehingga bisa mencapai kesuksesan di akhirat. Ajakan ini menyerukan kepada kita untuk menunaikan ibadah demi kepentingan akhirat tanpa harus meninggalkan kepentingan duniawi.
Sebagaimana firman Allah SWT :

اﻟﱡﺪْﻥَﻴﺎ ِﻣَﻦ َﻥِﺼﻴَﺒَﻚ َﺗْﻨَﺲ َوَﻻ ﻵِﺥَﺮَةا اﻟﱠﺪاَر اﻟﱠﻠُﻪ َءاَﺗﺎَك ِﻓﻴَﻤﺎ َواْﺑَﺘِﻎ   (77:اﻟﻘﺼﺺ)... ِإَﻟْﻴَﻚ اﻟﱠﻠُﻪ َأْﺣَﺴَﻦ َآَﻤﺎ َوَأْﺣِﺴْﻦ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu… ( Q.S. al-qasas : 77)

5.    Selanjutnya adalah َأْآَﺒُﺮ  اﻟﱠﻠُﻪ َأْآَﺒُﺮ اﻟﱠﻠُﻪ yang kembali mengungkapkan hakekat kebesaran Allah sebagaimana diungkapkan di bagian pertama.
6.    Pada bagian akhir اﻟﱠﻠُﻪ  ِإﱠﻻ ِإَﻟَﻪ َﻻ merupakan penegasan kembali bahwa Allah adalah Żat yang Maha Esa, yang wajib disembah.

Dalam rangkaian kata-kata ażān  ini pula terdapat filosofis urutan kata yang menunjukkan tuntunan dalam kehidupan kita yakni dalam rangkaian kehidupan hendaknya dibuka dengan pengakuan kebesaran Allah dan ikrar bahwa tiada tuhan selain Allah kemudian dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita mengabdi kepada Allah dengan melaksanakan ibadah dan menjauhi larangannya tanpa melupakan hal-hal yang bersifat keduniawian demi mendukung kelangsungan hidup yang berisi pengabdian kepada Allah, kemudian di akhir kehidupan semoga kita menutup kehidupan di dunia ini dalam keadaan tetap iman kepada Allah .


Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kalimat ażān  yang dibisikkan kepada bayi yang baru lahir merupakan pendidikan yang berupa pengenalan pertama kepada agama. Kalimat-kalimat tersebut mencerminkan dasar-dasar agama Islam yaitu berupa pengenalan akan adanya Allah yang Maha Besar yang tidak ada tuhan melainkan Dia, Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir yang menyampaikan syari’at Islam kepada umatnya dan juga diajarkan pilar utama agama Islam yaitu shalat, serta ajaran untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Demikianlah untaian kata-kata ażān  yang sarat dengan ajaran yang mendasar untuk mengenal dan melaksanakan agama Islam dan penuh dengan pesan-pesan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. 



Daftar Pustaka
Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir ; Kamus Arab – Indonesia, (Surabaya : Pustaka Progresf, 2002), cet. XXV,  hlm. 15.

Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, jilid I, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), hlm. 15. dan Mustafa al-Khin, dkk., al-Fiqhul Manhaji (Beirut : Dar al-Qalam, 1407H./1987M.), hlm. 113. 

 Imam Abi Dawud Sulaiman Ibn al Asy’aś al Sijistany al Azdy, Sunan Abi Dawud, Jus I (Beirut : Dar al kutub al ‘Ilmiyyah,  t.th.), hlm. 136.

Tengku Muhammad Hasbi ash Shiqqieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang, Pustaka Rizki Putra : 1999), hlm. 201-202. 

Muhammad Mustafa Azami, Memahami Ilmu Hadiś, (Jakarta, Lentera : 1993), hlm. 119. 

 Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadits Nabi SAW, terj. Muhammad al-Baqir, (Bandung : Karisma, 1999), hlm. 67.

Pengertian Resusitasi


Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998).

Sedangkan menurut Rilantono, dkk (1999) resusitasi mengandung arti harfiah “menghidupkan kembali”, yaitu dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Resusitasi jantung paru terdiri atas dua komponen utama yakni: bantuan hidup dasar (BHD) dan bantuan hidup lanjut (BHL). Selanjutnya adalah perawatan pasca resusitasi.

Bantuan hidup dasar adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas (Airway) tetap terbuka, menunjang pernafasan dan sirkulasi darah. Usaha ini harus dimulai dengan mengenali secara tepat keadaan henti jantung atau henti nafas dan segera memberikan bantuan ventilasi dan sirkulasi. Usaha BHD ini bertujuan dengan cepat mempertahankan pasokan oksigen ke otak, jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan (bantuan hidup lanjut).

Resusitasi dilakukan pada keadaan henti nafas, misalnya pada korban tenggelam, stroke, obstruksi benda asing di jalan nafas, inhalasi gas, keracunan obat, tersedak, tersengat listrik, koma dan lain-lain. Sedangkan henti jantung terjadi karena fibrilasi ventrikel, takhikardi ventrikel, asistol dan disosiasi elektromekanikal.

Tujuan

Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Tindakan resusitasi ini dimulai dengan penilaian secara tepat keadaan dan kesadaran penderita kemudian dilanjutkan dengan pemberian bantuan hidup dasar (basic life support) yang bertujuan untuk oksigenasi darurat. (AHA, 2003).

Tujuan tahap II (advance life support) adalah untuk memulai kembali sirkulasi yang spontan, sedangkan tujuan tahap III (prolonged life support) adalah pengelolaan intensif pasca resusitasi. Hasil akhir dari tindakan resusitasi akan sangat tergantung pada kecepatan dan ketepatan penolong pada tahap I dalam memberikan bantuan hidup dasar.

Tujuan utama resusitasi kardiopulmoner yaitu melindungi otak secara manual dari kekurangan oksigen, lebih baik terjadi sirkulasi walaupun dengan darah hitam daripada tidak sama sekali. Sirkulasi untuk menjamin oksigenasi yang adekwat sangat diperlukan dengan segera karena sel-sel otak menjadi lumpuh apabila oksigen ke otak terhenti selama 8 – 20 detik dan akan mati apabila oksigen terhenti selama 3 – 5 menit (Tjokronegoro, 1998). Kerusakan sel-sel otak akan menimbulkan dampak negatif berupa kecacatan atau bahkan kematian.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Resusitasi

Hipoksia yang disebabkan kegawatan pernafasan akan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila  keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain (Yu dan Monintja, 1997).  Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang bahkan dapat menyebabkan kematian.

Depresi nafas yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis. Hanya setelah oksigenasi dan perfusi jaringan diperbaiki maka aktivitas respirasi dimulai (Yu dan Monintja, 1997).

Pendapat tersebut menekankan pentingnya tindakan resusitasi dengan segera. Makin lambat dimulainya tindakan resusitasi yang efektif maka akan makin lambat pula timbulnya usaha nafas dan makin tinggi pula resiko kematian dan kecacatan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nelson (1999) yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan tata laksana penderita dengan henti nafas menitikberatkan pada pentingnya kemampuan tata laksana karena peningkatan hasil akhir pasca henti pernafasan dihubungkan dengan kecepatan dilakukannya resusitasi jantung paru.

Resusitasi akan berhasil apabila dilakukan segera setelah kejadian henti jantung atau henti nafas pada saat kerusakan otak yang menetap (irreversible) belum terjadi. Kerusakan otak yang menetap akan terjadi apabila kekurangan O2 dalam darah tidak segera dikoreksi atau apabila sirkulasi terhenti lebih dari 3 – 5 menit (Tjokronegoro, 1998)

Keberhasilan resusitasi tergantung kepada :
1)    Keadaan miokardium
2)    Penyebab terjadinya henti jantung
3)    Kecepatan dan ketepatan tindakan
4)    Mempertahankan penderita di perjalanan ke rumah sakit
5)    Perawatan khusus di rumah sakit
6)    Umur (tetapi tidak terlalu menentukan)


Tatalaksana Tindakan Resusitasi
Penilaian Bayi
Penilaian kegawatan pada bayi dan anak yang mengalami kegawatan tidak lebih dari 30 detik yang meliputi:
1)    Airway
 Apakah ada obstruksi yang menghalangi jalan nafas, apakah memerlukan alat bantu jalan nafas, apakah ada cedera pada leher.
2)    Breathing
 Frekuensi nafas, gerak nafas, aliran udara pernafasan, warna kulit/mukosa.
3)    Circulation
 Frekuensi, tekanan darah, denyut sentral, perfusi kulit (capillary refilling time, suhu, mottling), perfusi serebral, reaksi kesadaran (tonus otot, mengenal, ukuran pupil, postur).

Posisi Bayi
Untuk dapat dilakukan resusitasi jantung paru, penderita harus dibuat dalam posisi terlentang dan diusahakan satu level atau datar. Posisi untuk bayi baru lahir (neonatus) leher sedikit ekstensi, atau dengan meletakkan handuk atau selimut di bawah bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm

Posisi Penolong
Penolong sebaiknya berdiri disamping penderita dalam posisi dimana ia dapat melakukan gerakan bantuan nafas dan bantuan sirkulasi tanpa harus merubah posisi tubuh

Teknik Resusitasi
a.    Airway :  membuka jalan nafas
1)    Tentukan derajat kesadaran dan kesulitan nafas.
2)    Buka jalan nafas dengan cara tengadahkan kepala dan topang dagu (head tilt and chin lift) bila tidak terdapat cedera kepala atau leher dengan cara satu tangan pada dahi, tekan ke belakang. Jari tangan lain pada rahang bawah, dorong keluar dan ke atas (gambar 2.3). Gerakan ini akan mengangkat pangkal lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka. Lidah yang jatuh ke belakang sering menjadi penyebab obstruksi jalan nafas pada penderita yang tidak sadar.

3)    Gerakan mendorong rahang ke bawah ke depan (jaw thrust) juga dapat membuka jalan nafas bila diketahui terdapat cedera leher atau kepala.

4)    Membersihkan benda asing dapat dilakukan dengan :
(1)    Finger sweep: yaitu dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah penolong untuk membebaskan sumbatan jalan nafas yang diakibatkan oleh sisa makanan.
(2)    Heimlich manuver
(3)    Abdominal/chest thrust (Gambar 2.4)
(4)    Suction (pengisapan): yaitu membersihkan jalan nafas dilakukan pengisapan lendir/cairan dengan menggunakan suction. Pada bayi dimulai dengan mengisap mulut terlebih dahulu kemudian bagian hidung supaya tidak terjadi aspirasi dan dilakukan tidak lebih dari 5 detik.
5)    Setelah jalan nafas terbuka harus dinilai/evakuasi pernafasan  dengan melihat, mendengar dan merasakan adanya hembusan nafas.

b.     Breathing
1)    Dekatkan pipi penolong pada hidung dan mulut penderita, lihat dada penderita.
2)    Lihat, dengar dan rasakan pernafasan ( 5 – 10 detik).
3)    Jika tidak ada nafas lakukan bantuan nafas buatan/Ventilasi Tekanan Positif (VTP) .
4)    Pada Neonatus dan bayi < 1 tahun : pasang sungkup di wajah, menutupi pipi, mulut dan hidung dan selanjutnya rapatkan.
5)    Pada anak > 1 tahun pasang sungkup yang menutupi mulut, sedangkan hidung dapat dijepit dengan jari telunjuk dan ibu jari penolong.
6)    Lakukan tiupan nafas dengan mulut atau balon resusitasi. Berikan nafas buatan untuk neonatus 30-60 kali/menit, dan 20 kali untuk bayi dan anak yang kurang dari 8 tahun.
7)    Evaluasi pemberian nafas buatan dengan cara mengamati gerakan turun naik dada. Bila dada naik maka kemungkinan tekanan adekwat. Bila dada tidak naik cek kembali posisi  anak, perlekatan sungkup, tekanan yang diberikan, periksa jalan nafas apakah ada mucus atau tidak bila ada dapat dilakukan penghisapan dengan suction.
8)    Setelah dilakukan ventilasi selama satu menit, evaluasi apakah bayi atau anak dapat bernafas secara spontan,  Lakukan penilaian pulsasi tidak boleh lebih dari 10 detik. Jika pulsasi ada dan penderita tidak bernafas, maka hanya dilakukan bantuan nafas sampai penderita bernafas spontan.

c.    Circulation
1)    Jika pulsasi tidak ada atau terjadi bradikardi maka harus dilakukan kompresi dada sehingga memberikan bantuan sirkulasi disertai bantuan nafas secara ritmik dan terkoordinasi.  Pada neonatus pemberian kompresi jantung diberikan bila didapat pulsasi bayi < 60 kali/menit.

2)    Posisi tempat kompresi :
(1)    Pada neonatus: 1 jari dibawah linea interpapilaris.
(2)    Pada bayi: Sternum bagian bawah.
(3)    Pada anak: 2 jari diatas prosesus xipoideus.
3)    Tangan yang melakukan kompresi :
(1)    Neonatus : menggunakan 2 jari tangan atau 2 ibu jari.
(2)    Bayi : dengan menggunakan 2 jari.


Pengetahuan Perawat Tentang Resusitasi Jantung Paru Pada Neonatus

Resusitasi pada neonatus yang mengalami gawat nafas merupakan tindakan  kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997).

Pengetahuan perawat tentang resusitasi merupakan modal yang sangat penting untuk pelaksanaan tindakan resusitasi pada situasi kritis. Pengetahuan ini menentukan keberhasilan tindakan resusitasi. Pengetahuan tentang resusitasi dapat didapat melalui pendidikan, pelatihan atau pengalaman selama bekerja.

Pengetahuan yang perlu dimiliki perawat tentang resusitasi meliputi :
1)    Konsep kegawatan pernafasan meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi dan dampak terhadap sistem tubuh, manifestasi klinik dan penatalaksanaan medis.
2)    Konsep asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, evaluasi dan perencanaan pulang.
3)    Konsep resusitasi meliputi pengertian, tujuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan resusitasi serta pelaksanaan resusitasi yang meliputi penilaian kondisi neonatus, pengaturan posisi neonatus dan penolong dan teknik resusitasi yang terdiri dari pengelolaan jalan nafas (airway),  bantuan ventilasi  (breathing) dan  mempertahankan sirkulasi darah dengan cara pemijatan dada (circulation).
 

Terbaru

Masukkan Email Anda

Archives

Info Web

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net