Translate

Pengertian Kekerasan

  1. Kekerasan adalah suatu tindakan yang bersandar pada penggunaan ketegasan ekstra (Mukhtarluthfi,2008).
  2. Kekerasan adalah perilaku yang bertentangan dengan kelembutan dan sesuatu yang natural (Mukhtarluthfi,2008).

Bentuk kekerasan
Penganiayaan Fisik  Yaitu cedera fisik sebagai akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.

Kelalaian. Kelalaian ini selain tidak sengaja, juga akibat dari ketidak tahuan atau kesulitan ekonomi. Bentuk kelalaian ini antara lain yaitu :
  1. Pemeliharaan yang kurang memadai, yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh (failure to thrive), anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
  2. Pengawasan yang kurang, dapat menyebabkan anak mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa.
  3. Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan meliputi : kegagalan merawat anak dengan baik misalnya imunisasi, atau kelalaian dalam mencari pengobatan sehingga memperburuk penyakit anak.
  4. Kelalaian dalam pendidikan meliputi kegagalan dalam mendidik anak untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkannya atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman kata-kata yang merendahkan anak, atau tidak mengakui sebagai anak. Keadaan ini sering kali berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasikan anak dari lingkungan atau hubungan sosialnya atau menyalahkan anak secara terus menerus.

Penganiayaan seksual
Mengajak anak untuk melakukan aktivitas seksual yang melanggar norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat, dimana anak tidak memahami/tidak bersedia.

Aktivitas seksual dapat berupa semua bentuk oral genital, genital, anal, atau sodomi. Penganiayaan seksual ini juga termasuk incest yaitu penganiayaan seksual oleh orang yang masih ada hubungan keluarga.


Sindrom Munchausen
Sindrom ini merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat-buat dan pemberian keterangan palsu untuk menyokong tuntutan. Hal ini biasanya di lakukan orang tua karena ingin menutupi kejadian yang sebenarnya (Soetjiningsih, 1998:164).

Klasifikasi kekerasan menurut usia
  1. Anak 0-5 tahun reaksi yang timbul adalah cemas terhadap perpisahan, perilaku agresif, kehilangan kemampuan yang baru dicapai, dan mimpi buruk dengan mengigau.
  2. Anak 6-12 tahun reaksi yang timbul adalah kesulitan belajar, yang diakibatkan oleh adanya kesulitan dalam berkonsentrasi dan kegelisahan, gangguan stress pasca trauma, adanya interaksi sosial yang buruk, dengan perilaku agresif yang menonjol, reaksi depresi, kesulitan dalam tidur, dan bertingkah laku seperti anak yang lebih kecil.
  3. Anak 13-18 tahun reaksi yang timbul adalah merusak diri sebagai cara mengatasi rasa marah dan depresi, melakukan berbagai perilaku beresiko tinggi seperti menggunakan zat-zat terlarang, melakukan tindakan anti sosial, menarik diri dari lingkungannya sampai pada isolasi diri, perubahan kepribadian, dan keluhankeluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan secara pemeriksaan fisik atau laboratorium ( Neni Utami , 2004).


Pemicu Kekerasan  
Ada beberapa hal yang secara bersama saling menguatkan pemicu terjadinya beberapa perilaku yang mereduksi kualitas keluarga
  1. Eksistensi keluarga yang semakin virtual (maya), antara ada dan tiada, apalagi semakin orang tua yang sibuk berkarir di luar rumah.
  2. Kemiskinan membuat orang tua tega memperkerjakan anaknya apalagi, masih sangat kokohnya pola patriarki membuat anak tidak bisa berbuat banyak ketika dipaksa membantu mencari uang
  3. Terbatasnya akses pendidikan, Sedikitnya ada 6,6 juta anak (data tahun 2000) yang tidak bisa sekolah serta 7,2 juta siswa SD /SLTP terancam putus sekolah. Adanya waktu luang anak akibat tidak sekolah serta memburuknya ekonomi keluarga memperbesar peluang orang tua untuk mendesak anaknya bekerja.
  4. Pemanfaatan perkembangan teknologi yang tidak diawasi Teknologi bersifat netral. Ia bisa menguntungkan, namun bisa merugikan, bahkan cenderung mengarah ke sisi yang merugikan bisa lepas dari pengawasan. Televisi misalnya banyak acara yang mendidik, sarat pengetahuan, tapi banyak juga acara “sampah”. Tiada pengawasan membuat anak tertarik menonton acara sampah. Pada gilirannya, itu bisa memicu perilaku menyimpang, bahkan agresif. Moore dan Parton berpendapat (Moore, 13-16 Parton 1985:152174) Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan kepada anak disebabkan oleh faktor individu namun ada juga argumen karena faktor struktur sosial.
  5. Faktor individu. Menekankan bahwa  orang dewasa yang “berbakat” menganiaya anak mempunyai latar belakang masa kecil yang juga penuh kekerasan, ada juga orang dewasa menganggap anak seharusnya memberikan dukungan dan perhatian kepada orang tua dengan senantiasa memenuhi harapan orang tua sehingga jika tidak anak harus dihukum. Selain itu, orang dewasa yang tidak tahu pertumbuhan perkembangan anak sehingga jika anak tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan orang dewasa karena anak belum mampu maka orang dewasa menjadi marah.
  6. Faktor struktur sosial. Memandang perlakuan salah terhadap anak terjadi karena sesorang tidak mempunyai jaringan sosial yang memuaskan dan tidak mendukung dirinya dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya hubungan suami istri yang tidak harmonis, masalah di tempat kerja dan lain-lain. ( Desi Natalliany , 2008).

Dampak Kekerasan  
Dampak fisik anak
  1. Lecet hematom, luka bekas jahitan, luka bakar, patah tulang, pendarahan retina akibat dari adanya subdural hemtom, dan adanya kerusakan organ dalam lainnya.
  2. Sekuele/cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan     syaraf,     gangguan     pendengaran, kerusakan mata, dan cacat lainnya.

Dampak tumbuh kembang anak
  1. Pertumbuhan fisik anak kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapatkan perlakuan sama.
  2. Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan yaitu kecerdasan, emosi, konsep diri, agresif, hubungan sosial yang buruk.

Dampak dari penganiayaan seksual
Tanda – tanda penganiayaan seksual antara lain adalah :
  1. Tanda akibat trauma atau infeksi lokal, misalnya nyeri perineal, sekret vagina, nyeri dan pendarahan anus.
  2. Tanda gangguan emosi misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia atau perubahan tingkah laku.
  3. Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya.



Sindrome Munchausen
Gambaran sidrom ini terjadi dari gejala :
a.    Gejala yang tidak biasa atau tidak spesifik.
b.    Gejala terlihat hanya kalau ada orang tuanya.
c.    Cara pengobatan oleh orang tuanya yang luar biasa
d.    Tingkah laku orang tuanya yang berlebihan
e.    Adanya penyakit yang sama tetapi tidak biasa pada sepupu atau orang tuanya.
Akibat lain dari perlakuan salah tersebut, anak akan melakukan hal yang sama di kelak kemudian hari terhadap anak-anaknya  (Soetjiningsih, 1998 : 168).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Adsense Indonesia

Terbaru

Archives

Info Web

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net