Translate

Contoh Soal dan jawaban Metodologi Penelitian

 

1. Buatlah suatu contoh penelitian eksperimen dengan rancangan postest only controlled group, terutama sebutkan masalah, hipotesis, variabel, yang terdapat di dalam permasalahan/hipotesis tersebut, dan model analisis datanya. Jika hasil analisis data menolak hipotesis nihil, apa kesimpulan Saudara?

Jawab:

Rancangan postest only controlled group adalah :

Kelompok

Perlakuan

Postes

A

X

Y1

B

-

Y2

Ø Contoh Masalah:

  1. Apakah pembelajaran Koperatif Tipe STAD di kelas VI SMP efektif dalam mengajarkan Pokok Bahasan Aritmetika Sosial ?
  2. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Koperatif Tipe STAD dan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional ?

Ø Rumusan Hipotesisnya :

  1. Pembelajaran Koperatif Tipe STAD efektif dalam pembelajaran matematika untuk mengajarkan Pokok Bahasan Artimetika Sosial
  2. Hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Koperatif Tipe STAD lebih baik dibanding dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional

Ø Variabelnya terdiri dari :

1. Variabel bebas yaitu Pembelajaran Koperatif Tipe STAD

a. Variabel perlakuan adalah pendekatan pembelajaran yaitu pembelajaran Koperatif Tipe STAD untuk kelompok eksperimen dan pembelajaran matematika konvensional untuk kelompok kontrol

b. Variabel terkontrol yaitu

  1. Guru. Guru yang mengajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sama atau setara, yaitu guru bidang studi matematika dengan kualifikasi ijazah yang sama
  2. Materi Pembelajaran. Materi Pembelajaran pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama, yaitu materi Aritmetika Sosial berdasarkan Kurikulum Matematika 2004 SMP/MTs.
  3. Waktu. Jumlah waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama

c. Variabel tak terkontrol yaitu :

Keadaan ekonomi orangtua, pendidikan orangtua, budaya siswa, cara belajar siswa, keadaan tempat tinggal siswa, tingkat IQ siswa

2. Variabel terikat yaitu hasil belajar siswa setelah diberi perlakuan, hasil belajar siswa adalah skor yang diperoleh dari hasil posttes.

 

Ø Teknik Analisis Data

Data dalam penelitian ini selanjutnya di analisis melalui analisis statistik deskriptif dan analisis inferensial.

a. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dapat berbentuk tabel frekuensi, tabel silang dan beberapa statistik dasar seperti rata-rata, median, modus dan varians. Sehubungan dengan itu analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan menggunakan tabel frekuensi, rata-rata, varians dan persentase

Data penelitian yang menggunakan analisis statistik deskriptif adalah :

  • Data tes hasil belajar siswa.
  • Data aktivitas siswa selama pembelajaran.
  • Data Keterampilan guru mengelola pembelajaran
  • Data respon siswa terhadap pembelajaran.

b. Analisis Statistik Inferensial

analisis statistik inferensial bertujuan untuk melaksanakan suatu generalisasi yang meliputi estimasi dan pengujian hipotesis berdasarkan suatu data statistik inferensial mencakup analisis kovarian (ANAKOVA), statistik-t dan korelasi. Analisis statistik inferensial berfungsi untuk menggeneralisasi hasil penelitian yang dilakukan pada sampel.

Hipotesis nihil, disingkat Ho, merupakan hipotesis statistik (statistical hypothesis) yang berkaitan dengan tidak ada hubungan, pengaruh, atau perbedaan. Yang dimaksud dengan tidak ada bukan mutlak berarti 0 (kosong), karena dalam statistik dikaitkan dengan kebermaknaan hubungan atau perbedaan, sehingga pernyataan tidak ada hubungan (dalam korelasi) artinya hubungan antara variabel-variabel itu tidak bermakna, begitupula makna tidak ada pengaruh dimaksudkan bahwa pengaruh itu tidak bermakna. Berarti bilamana hipotesis nihil (H0) di tolak dalam penelitian tersebut maka kesimpulan yang diambil adalah tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan Pembelajaran Koperatif Tipe STAD dan yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada Pokok Bahasan Aritmetika Sosial di kelas VII SMP

Rancangan postest only controlled group

index

2. Terangkan perbedaan antara penelitian eksperimen dan penelitian tindakan (kelas)!

Jawab:

Metode eksperimen memiliki ciri khusus, yaitu:

1) Pemberian perlakuan (treatment variable) kepada subjek penelitian,

2) Pengamatan terhadap gejala yang muncul pada variabel respon sebagai akibat pemberian perlakuan,

3) Pengendalian variabel lain yang bersama variabel perlakuan ikut berpengaruh terhadap variabel respon atau variabel tergantung.

Penelitian tindakan dilaksanakan di dalam situasi nyata (riil) dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi (kelembagaan), kelompok, atau program tertentu. Mills (2000: 6) mengatakan bahwa action research adalah setiap inkuiri yang dilakukan oleh guru-guru peneliti, kepala sekolah, pembimbing sekolah atau pihak-pihak lain yang terlibat di dalam situasi pembelajaran, untuk mengumpulkan informasi (data) tentang cara-cara khusus yang mereka lakukan, bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa mereka belajar.

Tujuan penelitian tidakan bukanlah menemukan pengetahuan baru yang dapat diberlakukan secara meluas (generalizable), penelitian tindakan kelas memusatkan perhatian pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu menghiraukan kerepresentatifan sampel.

Penelitian tindakan menerapkan metodologi yang bersifat lebih “longgar” dalam arti tidak terlalu memperhatikan pembakuan instrumentasi. Namun di pihak lain, sebagai kajian yang taat kaidah, pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan obyektivitas, sedangkan imparsialitas dipegang teguh sebagai acuan dalam analisis serta interpretasi data. Penelitian tindakan dilancarkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self-justification), melainkan untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun jangkauan keterterapannya (range of generalizability) lebih terbatas.

Tabel 1. Perbandingan Karakteristik PTK dengan Penelitian biasa

No.

Dimensi

Penelitian Tindakan

Penelitian formal

1

Motivation

Action

Truth

2

Source of problem

Diagnosis of status

Induction-deduction

3

Purpose

Improve practice,here & now

Verify & discover generalizable knowledge

4

Researcher involvement

By actor/s from within

By disenterested outsider/s

5

Sample

Specific case

Representative sample

6

Methodology

“Loose” but strive for objectivity-impartiality

Standardized, with built-in objectivity & impartiality

7

Interpretation of findings

To understand practice through reflection-theorizing by practitioners

To describe, abstract & infer theory building by scientists

8

Ultimate result

Better student learning (processes & products)

Tested knowledge, procedures and materials

3. Penelitian tindakan kelas, jelaskan dengan singkat:

a. Bagaimana ciri permasalahannya?

b. Berapa siklus kegiatan diperlukan?

c. Mengapa bersifat kolaboratif dan situasional?

Jawab:

a. Ciri permasalahannya: Karakteristik pertama dari penelitian tindakan adalah bahwa kegiatan tersebut dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati dalam pelaksanaan tugas sehari-sehari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di suatu sekolah. Penelitian tindakan memusatkan perhatian pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu menghiraukan kerepresentatifan sampel. Ciri lain permasalahan penelitian tindakan kelas adalah adanya masalah yang benar-benar riil yang dihadapi guru dan penting untuk diteliti dalam usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dari suatu kelas tertentu. Selain itu masalah tersebut menarik perhatian dan mampu ditangani serta berada dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

b. Berapa siklus kegiatan diperlukan?

Konsep pokok dalam penelitian tindakan menurut Kurt Lewin dalam Suharsimi (2002: 83) adalah bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga menunjukkan langkah, yaitu :

1) Perencanaan atau planning

2) Tindakan atau acting

3) Pengamatan atau observing dan

4) Refleksi atau reflecting.

Hubungan antara keempat komponen tersebut menunjukkan sebuah siklus atau kegiatan berkelanjutan berulang. “Siklus” inilah yang sebetulnya menjadi salah satu ciri utama dari penelitian tindakan yaitu bahwa penelitian tindakan harus dilaksanakan dalam bentuk siklus, bukan hanya satu kali intervensi saja. Apabila digambarkan dalam bentuk visualisasi maka model Kurt Lewin akan tergambar dalam bagan lingkaran seperti berikut ini.

clip_image001

Model Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen tersebut dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang memandang komponen sebagai langkah dalam siklus. Kedua ahli ini menyatukan komponen kedua dan ketiga yaitu tindakan dan pengamatan sebagai satu kesatuan. Hasil dari pengamatan ini kemudian dijadikan dasar sebagai langkah berikutnya, yaitu refleksi dan mencermati apa yang sudah terjadi. Dari terselesaikannya refleksi lalu disusun sebuah modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan pengamatan lagi, begitu seterusnya. Jangka waktu untuk suatu siklus sangat tergantung konteks dan setting permasalahan, bisa jadi dalam bilangan hari atau minggu, tetapi dapat juga dalam hitungan semester atau tahun.

c. Mengapa bersifat kolaboratif dan situasional?

Ø Bersifat Kolaboratif

Karena peneliti tidak memiliki akses langsung, maka penelitian tindakan diselenggarakan secara kolaboratif dengan guru yang kelasnya dijadikan kancah penelitian. Hal ini dilakukan, karena yang “memiliki” kancah itu adalah guru yang bersangkutan, sehingga para peneliti yang berminat melakukan penelitian, yang seyogyanya merasakan kebutuhan untuk melakukan penelitian tindakan, tidak memiliki akses kepada kancah dalam peran sebagai praktisi. Oleh karena itu sifat kolaboratif ini harus secara konsisten tertampilkan sebagai kerja sama kesejawatan dalam keseluruhan tahapan penyelenggaraan penelitian tindakan, mulai dari identifikasi permasalahan serta diagnosis keadaan, perancangan tindakan perbaikan, sampai dengan pengumpulan serta analisis data dan refleksi mengenai temuan di samping dalam penyusunan laporan.

Ø Bersifat situsional

Bersifat situasional karena penelitian tindakan kelas dilaksanakan didalam situasi nyata yang sedang berlangsung dan kegiatan penelitian ini tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

 

 

4) Tuliskan suatu contoh akar permasalahan di bidang pendidikan matematika dan jabarkan akar permasalahan tersebut menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian!

Jawab:

Berdasarkan temuan dari studi TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) tahun 2003, rata-rata skor matematika siswa tingkat 7 (kelas VI SMP) di Indonesia berada di bawah rata-rata skor internasional dan berada pada ranking 34 dari 45 negara. Kenyataan ini mungkin disebabkan karena selama ini siswa hanya cenderung diajar untuk menghafal konsep atau prinsip matematika, tanpa disertai pemahaman yang baik.

Kondisi yang seperti ini harus diupayakan untuk diperbaiki. Upaya tersebut dapat dilakukan diantaranya melalui perbaikan kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru sudah saatnya diganti menjadi berpusat pada siswa. Suparno (1997) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas sudah saatnya untuk meninggalkan atau mengurangi proses pembelajaran dengan metode ceramah, dimana guru mendominasi bahan yang disampaikan kepada anak didiknya sedangkan anak didik hanya terpaksa dan dipaksa untuk duduk, mendengarkan, dan mencatat.

Konstruktivisme menempatkan siswa pada peranan utama dalam proses belajar (student centered). Peranan guru lebih bersifat fasilitator dan memiliki kewajiban dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu berinovasi dalam melaksanakan proses pembelajaran. Inovasi guru tersebut misalnya dalam hal pemilihan pendekatan pembelajaran.

Salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivis ialah pembelajaran kooperatif. Menurut Davidson & Kroll (1991 : 262) dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya dituntut untuk secara individual berupaya mencapai sukses atau berusaha mengalahkan rekan mereka, melainkan dituntut dapat bekerja sama untuk mencapai hasil bersama, aspek sosial sangat menonjol dan siswa dituntut untuk bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya.

Salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif adalah tipe STAD (Student Team Achievement Division). Pemilihan tipe STAD dalam tulisan ini karena pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran kooperatif yamg paling sederhana, sehingga cocok digunakan bagi guru-guru yang baru mulai menggunakan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran tipe STAD dalam pelaksanaannya meliputi empat komponen pokok yaitu : (1) presentasi kelas, (2) kerja kelompok, (3) kuis atau tes, dan (4) penilaian kelompok. Menurut Slavin (1997:124) pembelajaran kooperatif tipe STAD bercirikan materi pelajaran yang disampaikan adalah sederhana dan tugas utama siswa adalah menyelesaikan lembar kerja secara berkelompok.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis mencoba untuk menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan Aritmetika Sosiall di SMP kelas VII.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dirumuskan pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengembangan dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran kooperatif tipe STAD yang baik untuk pokok bahasan Aritmetika Sosial di SMP kelas VII?

  1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD efektif dalam mengajarkan pokok bahasan Aritmetika Sosial ?
  2. Apakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional untuk pokok bahasan Aritmetika Sosial.

 

5) Dalam penelitian kualitatif, mengapa!

a. Peneliti disebut sebagai instrumen kunci?

Jawab :

Peneliti disebut sebagai instrumen kunci karena kedudukan peneliti adalah kunci (menentukan) dalam penjaringan data. Peneliti itu sendiri merupakan instrumen pokok. Ia menyatu secara integratif di dalam proses observasi dan wawancara (participative approach). Makna dari “instrumen kunci” dimaknai bahwa kejujuran dan perilaku peneliti sangat berpengaruh dan menentukan keabsahan data dan hasil penelitian yang dilakukannya.

b. Setting penelitiannya alami?

Jawab :

Setting penelitiannya alami: Menurut Bogdan dan Biklen (1990:33) riset kualitatif mempunyai latar alami karena yang merupakan alat adalah sumber data langsung dan perisetnya.

c. Tidak mengenal sampel dan generalisasi terhadap populasi?

Jawab :

Penelitian kualitatif tidak mengenal sampel dan generalisasi terhadap populasi, karena dalam penelitian kualitatif yang diteliti bukanlah sampel melainkan subyek penelitian dan penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Selain itu hasil penelitian kualitatif memang hanya terbatas pada tempat dan waktu penelitian sehingga tidak bisa digeneralisasikan karena memang tidak mengenal sampel. Penelitian kualitatif biasanya menggunakan purposive sampling, dan hampir tak pernah menggunakan probabilistic sampling.

d. Lebih menekankan proses daripada hasil?

Jawab:

Lebih menekankan proses daripada hasil, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bogdan dan Biklen (1982) bahwa penelitian kualitatif memiliki karakteristik, sebagai berikut: qualitative researchers are concerned with process rather than simply with outcomes or products, proses menjadi titik perhatian penelitian kualitatif, untuk memberi jaminan makna (pemaknaan) gejala sosial agar dapat terhindar dari pembenaran yang bersifat common sense.

 

 

6. Dalam penelitian yang menggunakan analisis statistik inferensial disyaratkan sampel yang probabilistik? Apa arti sampel probabilistik itu dan berikan contohnya!

Jawab:

Dalam penelitian kuantitatif data yang dikumpulkan adalah data sampel, kemudian hasil analisis data itu digeneralisasikan atau diberlakukan pada populasi. Teknik analisis kuantitatif, khususnya statistik inferensial mensyaratkan sampel random, yakni sampel yang diambil dengan cara random, karena masalah sampling ini didasari oleh teori peluang (probability theory). Penetapan taraf signifikansi berkaitan dengan probabilitas kesalahan (p) dalam menerima atau menolak hipotesis nihil (Ho) atau a. Huruf p menunjukkan probabilitas kesalahan yang terjadi, sedang a menunjukkan batas toleransi kesalahan yang ditetapkan sebagai batas penolakan Ho

Cara Penentuan Sampel

Penentuan sampel didasarkan pada pertimbangan, bahwa karakteristik sampel tiap starata akan mewakili seluruh populasi. Setiap strata (tingkat) memiliki karakteristik yang agak berbeda, sesuai dengan pengalaman studi mereka. Dengan menggunakan rumus Cochran besarnya sampel adalah :

a. Menentukan besarnya sampel total

clip_image003

b. Menentukan besarnya sampel pada tiap strata (tingkat) dengan menggunakan rumus clip_image005

dengan

N = Keseluruhan sumber data populasi

Nh = Sumber data populasi pada setiap strata/tingkat

n = Ukuran sampel keseluruhan

nh = Ukuran sampel setiap strata

clip_image007 = Simpangan baku skor pada setiap strata

clip_image009 = Varians skor pada setiap strata

V = Varians rata-rata hitung taksiran yang bernilai sama dengan (d/t)2

d = toleransi galat (bias)

t = nilai t atau z pada taraf kepercayaan tertentu

 

 

7. Apa yang perlu disajikan dalam pembahasan hasil penelitian (diskusi), dan terangkan arti pentingnya diskusi tersebut dalam suatu penelitian?

Jawab:

Dalam pembahasan hasil penelitian (diskusi) disajikan hal-hal sebagai berikut:

  • Kaidah-kaidah dasar, hubungan kausal atau generalisasi yang diperlukan oleh hasil penelitian.
  • Bukti-bukti yang ditunjukan oleh data untuk tiap kesimpulan utama
  • Pengecualian dan teori-teori yang bertolak belakang serta penjelasan-penjelasan mengenai pengecualian tersebut
  • Perbandingan antara hasil penemuan dan penafsiran dengan penemuan peneliti-penliti lain.
  • Pembuatan generalisasi dari penemuan
  • Penarikan kesimpulan
  • Pemberian saran-saran dan implikasi kebijakan serta rekomendasi

Namun Menurut Suharsimi (1990: 626) mengemukakan bahwa hasil penelitian (diskusi) merupakan pengajuan pembahasan secukupnya yang disebabkan karena penemuan dari penelitian tersebut tidak sesuai dengan hipotesis atau harapan yang dikemukakan, sehingga peneliti mengungkapkan tentang kemungkinan kekurangan-kekurangan, kekhilafan atau kekeliruan yang ia perbuat dalam penelitiannya. Dengan kekeliruan tersebut, peneliti biasanya mengajukan saran-saran kepada calon peneliti yang akan datang, agar kekeliruan yang telah ia perbuat tidak terulang lagi oleh peneliti lain.

Lebih lanjut (Suharsimi, 1990: 626) dikatakan bahwa jika kesimpulan tidak sesuai dengan harapan atau hipotesis maka diskusi perlu di buat, dengan isi peneliti mengajukan kemungkinan-kemungkinan penyebab adanya ketidaksesuaian kesimpulan dengan harapan dan atau hipotesis yang telah di ajukan, penyebab tersebut dapat bersumber dari banyak faktor antara lain :

a. Kurangnya teori pendukung yang digunakan untuk landasan hipotesis sehingga hipotesis yang dirumuskan menjadi salah.

b. Teknik pengambilan sampel yang kurang tepat atau besarnya sampel tidak sesuai dengan seharusnya. Kesalahan yang bersumber dari faktor sampel ini dikenal dengan istilah “sampling error”.

c. Peneliti salah dalam menentukan teknik dan istrumen pengumpulan data sehingga mungkin saja data yang terkumpul merupakan data palsu bagi problematika yang harus di cari jawabannya atau hipotesisnya yang akan dibuktikan.

d. Peneliti melakukan kesalahan dalam menentukan metode untuk menganalisis data penelitiannya. Mungkin saja data yang terkumpul berupa data ordinal tetapi keliru dipandang sebagai data interval. Teknik analisis yang mestinya regresi yang membiarkan datanya interval telah diubah menjadi data diskrit kemudian di analisis dengan anava.

Materi diskusi dapat diambil dari literatur, bahan bacaan atau sumber lain. Suharsimi (1990: 627) menyarankan dalam menyusun hasil penelitian/ diskusi, jika pada pada waktu menyusun landasan hipotesis kita mencari materi-materi yang dapat dijadikan pendukung kebenaran yang dikandung dalam hipotesis, maka pada waktu menyusun diskusi kita mencari materi-materi yang memperlemah kebenaran yang diajukan. Dengan demikian penolakan terhadap hipotesis tersebut sesuai dengan materi yang berhasil di kumpulkan.

 

 

8. Tunjukkan ciri khas penelitian kualitatif yang membedakan dengan penelitian kuantitatif!

Jawab:

Ciri khas penelitian kualitatif adalah :

  • Berpijak pada konsep positivstik
  • Kenyataan berdimensi tunggal, fragmental terbatas, fixed
  • Hubungan antara peneliti dengan objek lepas, penelitian dari luar dengan istrumen standar yang objektif
  • Seting penelitian buatan dari tempat dan waktu
  • Analisis kuantitatif, statistik, objektif
  • Hasil penelitian berupa inferensi, generalisasi dan prediksi

Sedangkan ciri khas penelitian kuantitatif adalah :

  • Berpijak pada konsep naturalistic
  • Kenyataan berdimensi jamak, kesatuan utuh terbuka, berubah
  • Hubungan peneliti dengan objek berinteraksi, penelitian dari luar & dalam, peneliti sebagai instrument, bersifat subjektif, judgment
  • Seting penelitian alamiah, terkait tempat dan waktu
  • Analisis subjektif, intuitif, rasional
  • Hasil penelitian berupa deskripsi, interprestasi, tentative-situasional (Sukmadinata, 2005)

Ciri khas menurut Bogdan dan Biklen, 1982 adalah sebagai berikut :

a. Qualitative research has the natural setting as the direct source of data and researchers is the key instrument

Data pokok dalam penelitian kualitatif diperoleh dalam setting alami. Peneliti berusaha memahami gejala yang terjadi secara alami dalam kehhidupan sehari-hari. Kedudukan penelitian adalah kunci (menentukan) dalam penjaringan data. Peneliti itu sendiri merupakan instrumen pokok. Ia menyatu secara integratif di dalam proses observasi dan wawancara (participative approach).

b. Qualitative research is descriptive

Hampir semua penelitian kualitatif bersifat deskriptif dalam rangka memahami dan menggambarkan (memerikan) semua gejala yang diteliti.

c. Qualitative researchers are concerned with process rather than simply with outcomes or product

Proses menjadi tiitk perhatian penelitian kualitatif, untuk memberi jaminan makna (pemaknaan) gejala sosial agar dapat terhindar dari pembenaran yang bersifat common sense.

d. Qualitative researchers tend to analyze their data inductively

Analisis data dalam penelitian kualitatif banyak bersifat induktif, terutama pada periode awal penelitian

e. Meaning is of essential concern to the qualitative approach

Dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak saja memperhatikan bagaimana subjek yang diteliti berinteraksi, tetapi juga memperhatikan arti dan makna perilaku dalam setiap situasi (setting).

 

Disamping menurut pendapat Bogdan dan Biklen diatas sifat-sifat lain dari penelitian kaulitatif antara lain :

a. Penelitian kaulitatif mengutamakan data primer, dengan maksud agar peneliti mampu mendalami gejala yang menjadi pusat perhatian (focus) berkaitan dengan konteks dimana gejala itu.

b. Dalam penelitian kualitatif diperlukan “extensive triangulation” atau “cross cheking” dengan wawancara, observasi dan dokumen atau waktu berbagai sumber data, seperti informan dalam situasi atau waktu yang berbeda.

c. Individu yang sedang diteliti biasanya disebut partisipan atau teman yang dapat diajak kerjasama dalam proses penelitian (khususnya pengumpulan data) atau lebih berfungsi sebagai informan dariapada responden

d. Dalam penelitian kualitatif, permasalahan penting dilihat dari kacamata pihak yang diteliti dan bukan dari kacamata peneliti.

e. Penelitian kualitatif yang menggunakan purposive sampling dan hamper tidak pernah menggunakan probabilistic sampling

f. Penelitian kualitatif tidak terbatas hanya menggunakan data kualitatif, tetapi juga data kuantitatif.

 

Secara definitif data kualitatif diartikan sebagai data yang berbentuk kata-kata dan bukan angka dan bukan kata yang bermakna numerikal. Oleh karena itu proses pengumpulan data yang paling lazim dilakukan dalam penelitian kualitatif adalah observasi, wawancara, studi dokumen, perekaman. Data yang berhasil dikumpulkan biasanya “diproses” atau dianalisis langsung tanpa menunggu data itu diedit, diketik dan/atau diuraikan lebih lanjut, sepanjang data tersebut tetap berbentuk ungkapan-ungkapan (kata-kata) yang dapat diorganisasi ke dalam bentuk naskah naratif.

Penelitian kuantitatif mendasarkan pada paham positivistik atau paradigma positivisme. Atas dasar paham ini sifat penelitian kuantitatif adalah hipotetiko-deduktif-verifikatif, partikularistik objektif serta berorientasi pada hasil ilmu alamiah. Sebaliknya paradigma penelitian kualitatif adalah fenomenologis yang bersifat induktif, holistik, dan subjektif serta berorientasi pada proses. Jika dibandingkan kedua jenis pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif, dapat disajikan dalam tabel berikut.

 

Paradigma fenomenologik

Paradigma positivistik

Mendukung penggunaan metode kualitatif

Mendukung penggunaan metode kuantitatif

Memahami perilaku manusia/organisasi menurut keadaan yang diamati

Positif, logis: mencari fakta sosial tanpa banyak memperhatikan latar belakang

Observasi alamiah yang bebas tidak dikendalikan

Pengukuran yang menonjol dan terkendali

Subjektif

Objektif

Dekat dengan data

Terpisah dengan data

Berbaur, berorientasi pada temuan, deskriptif, induktif

Tidak berbaur, berorientasi pada verifikasi, konvirmatif reduksionistik, inferensial, hipotetik deduktif

Orientasi pada proses

Orientasi pada hasil

Data valid: nyata, kaya, dan mendalam

Data handal, mantap, dapat diulang

Hasil tak harus digeneralisasikan, utuh, alamih, dan kasuistik

Hasil dapat digeneralisasi, studi banyak kasus

Berasumsi realitas, dinamis.

Berasumsi realitas statis

Holistik

Partikularistik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Terbaru

Masukkan Email Anda

Archives

Info Web

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net