Translate

Pro dan Kontra dihapusnya TIK

Sebenarnya saya tidak ingin membahas masalah dihapusnya mata pelajaran TIK, akan tetapi kejadian yang saya alami hari ini membuat saya harus ikut berbicara tentang pentingnya mata pelajaran TIK, bahkan jika perlu mata pelajaran TIK tidak hanya diajarkan kepada para siswa tetapi juga harus diajarkan kepada guru-guru, Staf kantor, para calon pemimpin, dan juga para pemimpin yang saat ini memegang jabatan publik selain pejabat negara yang bernama Bapak Roy Suryo. hehehe!

Teman-teman tentunya akan bertanya-tanya mengapa saya harus menulis tentang masalah yang berkaitan dengan TIK? Hari ini saya disibukkan dengan 3 unit PC dan 1 buah laptop.  3 unit PC tersebut berasal dari 3 sekolah masing-masing 1 unit dari MIS, 1 Unit dari SMP dan 1 unit dari perguruang tinggi yang semuanya tidak perlu saya tulis disini. Dan masih ada satu lagi yakni Laptop dari teman guru, setelah saya cek ternyata masalahnya cukup ringan, bukan berarti saya pintar memperbaiki tetapi hanya berdasarkan pengetahuan yang pernah saya dapatkan dari SMP tempat saya belajar TIK.

Masalah komputer tersebut masing-masing 1 unit tidak mau login menurut jago-jago komputer katanya blue screen, satunya lagi yang rusak cuma mousex yang harus diganti, dan satunya lagi mau diinstalkan program anti virus. Sementara Laptop hanya ingin dilihatkan saja, maklum baru dibeli. aneh kan? hehehe.

Melihat pengalaman saya hari ini, dalam hati bertanya-tanya dimanakah pemerintah mengambil sampel sehingga berani menyatakan bahwa mata pelajaran TIK tidak diperlukan lagi? atau berani mengintegrasikan TIK yang menurut saya sangat radikal ke semua mata pelajaran? sementara guru-guru yang mengajar mata pelajaran lain belum sepenuhnya mampu memahami dan mengerti serta belum memiliki kemampuan mengoperasikan alat-alat TIK. Mengoperasikan komputer mungkin terlalu berat, bagaimana dengan HP? Hampir semua sekolah yang ada di Indonesia sangat jarang melakukan swiping untuk memeriksa isi yang terdapat dalam HP. Hal ini karena guru-guru banyak yang tidak memahami bagaimana mengoperasikan alat-alat yang berhubungan dengan TIK. Coba anda bandingkan dengan swiping yang dilakukan oleh guru terhadap rambut, ada banyak sekolah yang secara rutin tiap minggu melaksanakan kegiatan ini demi menegakkan tata tertib sekolah.

Berdasarkan kurikulum 2013, mata pelajaran TIK menjadi perbincangan serius dikalangan dunia pendidikan, sumbernya tidak lain adalah dihapusnya TIK dari deretan mata pelajaran yang diajarkan. Yang tidak memahami betapa pentingnya TIK menyatakan mendukung mata pelajaran TIK dihapus, sedangkan yang memahami dan mengerti tentang TIK menyatakan menolak atas keputusan pemerintah yang menghapus mata pelajaran TIK.

Mata pelajaran TIK mulai diperkenalkan sejak adanya kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan KTSP, sekitar 2 tahun berikutnya TIK menjadi mata pelajaran tersendiri. Dampak dari diterapkannya mata pelajaran TIK antara lain; Siswa dan mahasiswa tidak lagi mengerjakan tugas menggunakan mesin ketik, instansi pemerintah maupun swasta mulai meninggalkan mesin ketik, bermunculannya usaha-usaha warnet akibat pengetahuan siswa yang menganggap bahwa internet adalah perpustakaan maya yang memiliki referensi serba lengkap, banyaknya orang tua yang mulai merasa tertinggal akan pengetahuannya tentang TIK, Komputer bukan lagi sebagai sesuatu yang lux tetapi sudah dianggap sebagai kebutuhan pokok, dan masih banyak lagi.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dampak negatif selalu mengikut, tentang dampak negatif dalam era sekarang sudah tidak bisa lagi dihindari. Yang harus kita lakukan adalah mengontrol perkembangan TIK dan pengaruh-pengaruhnya. Menghindari TIK apalagi menghapusnya justru akan memperparah pengaruh-pengaruh negatif akibat kebebasan informasi. OLehnya itu, menghapus mata pelajaran TIK bukanlah solusi tetapi yang harus dilakukan justru menambah muatan TIK tersebut.

Untuk menyaring masuknya budaya barat yang tidak sesuai dengan tatanan moral bangsa adalah dengan memanfaatkan dan meningkatkan pemahaman ajaran agama. Sementara untuk menyaring masuknya budaya negatif akibat kemajuan TIK dapat dilakukan melalui mata pelajaran TIK. Bukan perkara mudah untuk mengintegrasikan TIK ke mata pelajaran lainnya, TIK bukan hanya berbicara sebagai media tetapi TIK juga berbicara etika dan moral. Jika dalam kehidupan nyata, yang mengontrol sikap dan prilaku manusia adalah peraturan perundang-undangan  sementara yang mengontrol kehidupan di dunia maya adalah muatan yang terdapat dalam mata pelajaran TIK.

Sekarang mata pelajaran TIK telah dihapus berdasarkan kurikulum 2013, pekerjaan kita berikutnya adalah siapakah yang akan mengontrol pengaruh negatif akibat kemajuan TIK? Tidak mungkin lembaran-lembaran undang-undang juga tidak mungkin menggunakan palu sidang para hakim, atau pistol para polisi  bahkan senjata penghancur dari tentara. Tetapi TIK-lah yang bisa mengontrol dunia maya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Adsense Indonesia

Terbaru

Archives

Info Web

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net